Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

The Return; Ketika Kegerakan Doa dan Pertobatan Melanda Amerika


Terangindonesia.id - Seluruh negara di dunia, tak terkecuali Amerika Serikat, diterjang badai pandemi Covid 19. Bahkan negara adidaya ini, dikabarkan termasuk yang terparah, dengan jumlah kematian cukup tinggi. Namun, justru di tengah kondisi itu, mendatangkan gelombang pertobatan lewat kegerakan doa yang luar biasa lewat kegiatan The Return (25-26 September) yang melibatkan 50 ribu pendoa di US Capitol, Distrik Colombia. Juga kegiatan March Prayer 2020 yang diprakarsai oleh Franklin Graham.

The Return, adalah sebuah kegerakan doa untuk satu tujuan, kembali kepada Tuhan dengan datang ke hadapan hadirat-Nya dalam kerendahan hati, ketulusan dalam doa, dan pertobatan.



Acara yang juga diikuti oleh seluruh dunia ini, turut melibatkan pimpinan gereja lintas denominasi. Sebut saja Jonathan Cahn, Kevin Jessip, Franklin Graham, Anne Graham Lotz, Pat Robertson, James Dobson, Steve Cioccolanti, Pat Boone, Nicky Cruz, Don Moen, Paul Wilbur Michael W Smith, dan banyak lagi. Bersama-sama warga Amerika Serikat yang hadir dalam acara itu, mereka berdoa bersungguh-sungguh, merendahkan hati, memohon lawatan, pertobatan dan kasih karunia Tuhan bagi Amerika Serikat.


Bangkitnya kegerakan doa pertobatan di Amerika Serikat, tidak terlepas dari apa yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan di Indonesia yang terbeban akan kondisi dunia, termasuk Amerika Serikat. Diawali dengan kegiatan Trumpet Call for the Nations pada 17 Agustus 2020. Lebih dari 120 pendoa dari 30 negara terlibat dalam gerakan doa yang dahsyat ini. Gerakan doa ini pun terus bergulir semakin besar dengan melibatkan seluruh pendoa dari seluruh dunia, yaitu Trumpet Call for America pada 9/11, bertepatan dengan peringatan aksi terorisme di Amerika Serikat yaitu penabrakan pesawat ke Gedung World Trade Center di Manhattan, NYC.

Apa yang dilakukan para pendoa dari Indonesia, diapresiasi oleh sejumlah pimpinan gereja dan lembaga kristiani di Amerika Serikat. Seperti yang disampaikan Founder & Co-Chair The Return, Kevin Jessip, dalam laporan langsung yang dilakukan oleh Ps. Raymond Pranoto dan Ferry Tasik.  “Saya melihat sangat luar biasa apa yang dilakukan oleh Indonesia, dan saya percaya Tuhan juga bekerja di sekarang ini,” ujar Kevin.

Selain doa dan pujian, acara ini juga diisi dengan kesaksian. Dan yang tidak kalah menarik yaitu peniupan trompet yang terbuat dari tanduk hewan, sebanyak tujuh kali oleh Ps. Jonathan Chan, sebagai tanda adanya tujuh berkat yang dilepaskan bagi Amerika dan dunia. Seperti halnya ketika umat Israel mengeliling Tembok Yeriko sebanyak tujuh kali sambil meniupkan sangkakala.



Ketujuh berkat tersebut yaitu kekuatan Allah atas dunia ini, runtuhnya kuasa-kuasa kegelapan, adanya pertobatan kembali, kuasa penebusan,  kuasa pengurapan, pencurahan berkat dari surga rohani untuk adanya kebangunan rohani, dan berkat Tuhan atas kehidupan kita.

Dalam March Prayer 2020 Franklin Graham memimpin gerakan jalan kaki bersama menuju National Capitol dan melakukan doa di lokasi tersebut. Di tempat itu mereka mendoakan bagi seluruh orang-orang yang terlibat dalam pemerintahan serta otoritas setempat, agar dituntun, dilindungi, dan diberkati Tuhan. /ANT.

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…