Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Kisah NUH secara tipologi bisa dianggap sama dengan situasi saat ini sekalipun tidak persis sama. Namun belajar dari kisah NUH maka kita bisa menjadikan ruang intropeksi untuk menyesuaikan dengan satu era yang baru. jaman nuh merupakan jaman peralihan jaman yang secara sejarah di kenal sebagai jaman es di tandai dengan punahnya bberapa jenis binatang dan jenis manusia raksasa (neaderthal, meganthropus erectusjavanicus, dsbnya). Demikian juga perubahan hidup era jaman es atau jaman pasca air bah, secara typologi keadaan jaman Nuh mirip dengan jaman kini yang merupakan jaman peralihan untuk kita masuk secara paripurna dalam revolusi industri 4.0.

Jaman NUH di mulai dari satu fenomena sosial yang di deskripsikan dengan dua keadaan :
a. Kejahatan manusia yang besar di bumi. Artinya kejahatan yang mempunyai skala yang lebih besar baik kuantitatif maupun kualitatif .

b. Manusia mempunyai kecendrungan hatinya membuahkan kejahatan dimana hati identik dengan dua hal motif dan hati nurani. Dalam fenomena ini dapat di lihat bagaimana seluruh tindakan manusia di penuhi motif yang jahat dan hati nurani manusia menghasilkan suara suara untuk melakukan tindakan yang jahat.

NamunTuhan memberikan kasih karunia kepada NUH sama dengan situasi saat ini dimana Covid 19 bagi anak-anak Tuhan tidak usah takut, kuatir atau gentar sebab kasih karunia dan perlindungan Tuhan paripurna dalam hidup anak-anak Tuhan.

Oleh kasih karunialah keberlangsungan hidup itu terjadi dimana Nuh mendapatkan pedoman untuk mempersiapkan diri menyediakan tempat karantina (bahtera) yang medianya adalah perahu. Karena ketaatannya akan pedoman atau petunjuk itulah yang menyebabkan kasih karunia menghasilkan satu kehidupan bagi keluarga nuh demikian juga ketaatan kita akan protokol Covid 19 akan menghasilkan kehidupan bagi kita.

Ketaatan NUH dalam menjalankan karantina memberikan satu gambaran bagaimana NUH memusatkan orientasinya pada kehidupan baik kehidupan keluarga maupun beragam fauna. Peristiwa NUH merupakan peristiwa sejarah dunia yang di kenal dengan jaman mencairnya es yang di sebabkan peristiwa vulkanik yang diikuti oleh hujan yang lebat berhari-hari.

Paska air bah, NUH mendesign kehidupan yang baru dan kehidupan yang baru ini kelak menjadi generasi yang berbeda sebelum air bah yaitu generasi yang hidup dalam kebenaran.

Mengambil kisah NUH dengan pendekatan tipologi saat ini maka gambaran NUH merupakan gambaran seharusnya dri Gereja Tuhan saat ini. gereja seharunya memfokuskan pada ketaatan dan kehidupan sehingga pasca Covid 19 ini gereja harus mampu menjawab tantangan jaman dan menjadi gereja yang mampu menyerap dan berdiri di jaman yang baru. mengambil kisah Nuh maka gereja setidaknya ada 4 yang harus di lakukan perubahan mendasar dalam gereja.

Asumsi bahwa kelahiran jaman baru melalui peritiwa penting perlu di buktikan namun Covid 19 di prediksi akan banyak mengalami prubahan kedepan tidak terkecuali dalam hal ini gereja.

Ada beberapa asumsi dan keharusan gereja melakukan perubahan
1. Dari sisi manajemen. Governance bukan lagi menjadi bahan diskusi, perdebatan bahkan sumber perpecahan melainkan menjadi satu keharusan untuk mengelola gereja baik dri sisi finansial, human resources dsbnya di kelola secara transparan, akuntabilitas dan suistanable.

Dalam aspek ini yang harus dilakukan gereja di masa depan adalah
a. Paham akan krisis.
Bagaimana menempatkan mitigasi resiko sebagai bagian dari keniscayaan perubahan dan merespon secara cepat perubahan dengan menempatkan mitigasi bagian dri crisis manajemen maka gereja bisa melakukan quick respon atas situasi apapun baik pandemic, krisis ekonomi, maupun mekanisme penyelesaian jika ada konflik internal

b. Fungsionalitas
Aspek penting dalam manajemen adalah jelasnya job disk , pembagian kerja dan pendelegasian kewenangan sehingga sentralistik dan kepemimpinan tunggal yang cendrung menggunakan naluri dan pemikiran sendiri menjadi tdk efektif dan menjadi efektif jika dikelola dengan pembagian beban secara kolektif sehingga prinsip kolektif kolegial menjadi ideal

c. Shiffting
Dari pendekatan ibadah konvensional offline menjadi ibadah online dan mungkin kedepan akan menjadi perpaduan yang menarik ketika ibadah  bisa di lakukan baik offline maupun online apalagi situasi lalulintas , waktu dsbnya menyebabkan penurunan jumlah anak muda yang beribadah serta jangkauan online memiliki daya jangkau yang luas.

2. Lahirnya gaya kepemimpinan baru.

selama ini gereja di kenal dgn dua gaya kemimpinan yaitu gaya kepemimpian kharismatik dan gaya kepemimpinan transformasional yang turunannya adalah servant leadership. dengan pendekatan perpaduan serta lahirnya perangat digitalisasi , artificail intelejen , internet of think , data center dsbnya maka kepemimpinan leadership 4.0 akan lahir sebagai satu pembaharuan jaman. namun yg terpentig dri lahirnya leadership 4.0 adalah kemampuan harmonisasi menjadi satu variable penting untuk memfasilitasin antara nilai lama dan nilai baru sehinga menhindari chaos.

3. Pusat pemberitaan tidak lagi pada denominasi melainkan pada jemaat

Selama ini gereja berpusat pada kegiatan ritual bahkan cendrung melahirkan pemikiran taurat modern yang lebih banyak memfokuskan pada kesibukkan kegiatan organisasi dripada pertumbuhan jemaat. Ironisnya perbedaan doktrin menjadi sumber perpecahan bukan sumber keragaman yang merupakan satu kekayaan. dengan lahirnya dua wajah manusia modern yaitu melek akan informasi dan manusia yg hidup dalam era kemudahan memberikan tantangan sekaligun peluang untuk gereja lebih menekankan perhatiannya pada manusia disinilah kasih menjadi hal yg harus manifes ketika semua kehidupan menjadi area cyber dan komunitas menjadi digital dan kehilangan sentuhan manusia.

4. Fokus pada pengajaran Alkitabiah.

Kehausan akan kebeneran menjadi tajuk utama manusia modern dimana agama membangun pengertiannya sendiri bahkan new age memberikan pengertiannya sendiri kepada humanisme modern maka pengajaran alkitabiah menjadi alternative mengisi ruang kosong masyarakat modern yang kehilangan essensi moralitas dan kebenaran yang absolut tentang kehadiran Tuhan.

Pasca covid 19 dan perubahan perubahan akan terjadi kedepan dan gereja harus belajar dri satu peristiwa penting punahnya binatang-binatang yang besar sebab ketidakmampuan beradaptasi jaman baru. lahirnya dan mendominasinya generasi milineal lalu zineal akan merubah warna gereja dan pengajarannya sehingga gereja sampai saat ini eksis sebab kemampuan beradaptasi. kemampuan beradaptasi bukan kompromi pada pengajaran namun merubah metodeloginya tanpa merubah essensi dri konten kebenaran firman Tuhan. covid 19 di percaya oleh banyak orang merupakan percepatan perubahan untuk masuk dalam iklim revolusi industri 4.0.



Taufan Hunneman

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…