Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Terangindonesia.id - Era Reformasi ditandai dengan pernyataan singkat Soeharto pada 21 Mei 1998, yang menyatakan dirinya berhenti sebagai presiden. Peristiwa lengser-nya Soeharto kemudian menjadi sangat ikonik, dan akan tersimpan lestari dalam memori publik.

Setelah sekian tahun kita baru tersadar, bahwa pernyataan singkat Soeharto tersebut, hampir mirip dengan pernyataan Proklamasi dari Soekarno dan Hatta pada tahun 1945 dulu, khususnya dalam hal dampak. Benar, meski terbilang singkat, hanya sekian menit, namun pernyataan dari Presiden pertama dan kedua tersebut memberi dampak besar, yang menjadi penanda sebuah zaman. Bila dampak yang ditimbulkan oleh Proklamasi, mungkin sudah terlampau sering dibahas, tulisan ini hanya membatasi diri pada niatan reflektif terhadap Reformasi 1998.

Penulis sendiri yang sedikit-banyak turut memperjuangkan reformasi (1998), terus terang merasa prihatin, mengapa peralihan kekuasaan, atau lebih bagus lagi diistilahkan sebagai peralihan zaman, selalu dilalui dengan cara kekerasan dan berdarah-darah, seperti peristiwa tahun 1965 dan 1998. Penulis selalu bertanya dalam hati, mengapa perubahan zaman di negeri kita harus dilalui dengan cara seperti itu. Cukup sudah mengorbankan nyawa rakyat kecil tak berdosa bagi sebuah perubahan.

Menjadi tanggung jawab moral kita, yang masih diberi kesempatan menikmati era reformasi, untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan para warga yang tewas  menjelang reformasi, khususnya pengorbanan (nyawa) para aktivis mahasiswa. Kiranya reformasi ini bisa memandu bangsa kita menuju zaman baru, dengan peradaban yang baru pula.

Peradaban baru yang saya maksud adalah, masyarakat kita sejahtera dan sistem politik berjalan secara demokratis. Bukankah ini pula, yang menjadi cita-cita Proklamasi dulu. Bung Karno selaku bapak bangsa, pernah berujar, bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat sejahtera.

Salah satu yang saya risaukan dalam 22 tahun reformasi adalah, belum munculnya figur kuat dari eksponen aktivis 1998. Mengapa belum juga muncul generasi baru yang meyakinkan. Elite politik masih diisi wajah lama, yang sebagian adalah bagian dari zaman yang telah lewat. Izinkanlah saya menyebut seorang tokoh, hanya sekadar contoh, tanpa mengurangi rasa hormat saya  terhadap beliau. Tokoh   dimaksud adalah Jenderal (Purn) Wiranto. Saat Soeharto menyatakan mundur di Istana, Wiranto berada di ruangan yang sama, dan kini Wiranto masih saja “bertahan” di Istana. Keberadaan Wiranto dan generasinya di pusat kekuasaan, menjadikan waktu terasa lambat, dua dekade reformasi seolah tak ada perkembangan berarti. 

Kekuasaan di masa lalu adalah kepemimpinan model patronase, jadi tergantung pada budi baik atasan, bukan berdasar pada aspek kompetensi. Ini pelajaran penting buat generasi sekarang, atau populer disebut generasi milenial. Generasi baru kepemimpinan di Tanah Air adalah mereka yang sudah teruji di lapangan, mereka yang berkeringat dengan segala pahit getirnya.

Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, sejak sebagai sebagai aktivis mahasiswa hingga aktif dalam kegiatan politik, ada dua nilai yang perlu dimiliki pemimpin dari generasi baru, yakni aspiratif dan legowo (besar hati).

Pemimpin yang aspiratif adalah pemimpin yang mau mendengar jeritan hati rakyatnya. Mengingat suara rakyat jelata adalah realitas yang sesungguhnya, dan pemimpin harus berani menjemputnya. Kita bisa belajar dari pujangga besar pertengahan Abad 19, yakni Ronggowarsito, yang menyampaikan aspirasinya melalui karya fenomenalnya: Serat Kalatida (Syair Masa Kegelapan).

Ronggowarsito menulis narasi tersebut berdasarkan kesaksian,  melihat penderitaan rakyat, sementara para penguasa di Istana (Kasunanan Surakarta) seolah abai, dan tetap menghambur-hamburkan kemewahan. Satu hal yang ingin saya katakan adalah, tulisan atau narasi bagus biasanya lahir dari penderitaan. Tidak ada karya tulis hebat yang lahir dari kemewahan di pusat kekuasaan.

Oleh karenanya pemimpin harus peka terhadap penderitaan rakyat, karena pada suara rakyat yang menderita, terletak kebenaran sejati. Nilai berikut yang harus dimiliki adalah legowo (berjiwa besar). Memang nilai ini berasal dari khazanah tradisi jawa (mataram), namun tetap memiliki aktualitas bila diterapkan di level kebangsaan.  Makna legowo  yang paling relevan dalam konteks sekarang, adalah merelakan bila ada orang lain atau (mungkin) sahabat kita sendiri yang meraih sukses. Jangan lagi ada dengki atau saling serang secara personal, bila kita merasa kecewa.

Energi pada hati yang sedang gundah, bisa dialihkan pada kegiatan yang lebih positif, sembari menerima kenyataan, bahwa mungkin memang belum rezeki kita, ketika belum meraih apa yang menjadi angan-angan. Pada generasi terdahulu, kita biasa melihat perebutan kekuasaan atau jabatan demikian sengitnya, sehingga muncul metafora sarkastis: “tega melangkahi jasad kawan seperjuangannya.”

Masyarakat kita memiliki modal sosial yang luar biasa bagus, berupa keberagaman budaya dan sikap toleransi. Karenanya pada saat ini dibutuhkan kepemimpinan yang kompeten dan kredibel, agar modal sosial masyarakat semakin bermakna. Kita sebagai bangsa besar adalah keniscayaan, melalui zaman baru dan kepemimpinan dari generasi baru pula.


Taufan Hunneman
Aktivis Gerakan 98 dan Sekjen Fornas Bhinneka Tunggal Ika

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…