Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Medan, terangindonesia.id : Ditengah riuh dan semarak selebrasi pembukaan Munas PGLII di GBI Rumah Persembahan, Simpang Selayang, Medan- Sumatera Utara, tim media dan Infokom PGLII DKI Jakarta Roy Agusta mewawancarai Wakil Sekretaris Umum Pengurus Pusat PGLII Robby Repi, SH., M.Th.

Dalam penjelasan awalnya, Robby Repi menjelaskan alasan Pengurus Pusat PGLII memilih Kota Medan sebagai tuan rumah Munas ke XII PGLII. Menurut Robby, pilihan Kota Medan sudah melalui banyak pertimbangan hingga akhirnya diputuskan memilih Kota Medan yang terletak di Sumatera Utara. “Keputusan Kota Medan sebagai tuan rumah bukan tiba-tiba, melalui berbagai pertimbangan. Kalau dilihat catatan Munas PGLII sebelumnya,  lebih banyak diadakan di Jakarta, Batu, Yogyakarta, Bandung, di luar Pulau Jawa hanya sekali, di Bali. Pilihan Munas diujung Barat juga karena faktor perkembangan dan kebutuhan anggota-anggota yang bernaung di bawah bendera PGLII. Hingga akhirnya Kota Medan sebagai kota terpadat ke tiga, kami anggap layak dipercaya sebagai tuan rumah Munas ke XII PGLII.”

“Apalagi di Medan ada GBI Rumah Persembahan dan GBI Tabernacle of David. Dimana GBI adalah juga salah satu anggota PGLII.” Menurut Robby, ada beberapa pertimbangan lain hingga disepakati bersama GBI Rumah Persembahan dan GBI Tabernacle of David ditunjuk sebagai tuan rumah.

Dalam penjelasannya, Robby Repi mengakui PGLII sekarang ini sedang mengalami peningkatan, artinya jangan hanya dilihat dari jumlah anggota sinode dan lembaga yang terdaftar tetapi pada peran PGLII. PGLII sebagai salah satu lembaga aras gereja nasional, masih menurut Robby, selama ini cukup selektif dalam menerima keanggotaan. Kita jangan terjebak pada besaran jumlah saja, tetapi bagaimana PGLII dapat mendukung dan bermana dalam pergerakan gereja-gereja melalui sinode atau lembaga dan yayasan masing-masing. Jangan sampai sinode gereja yang bergabung merupakan sinode baru yang pecah dari sinode lainnya yang notebene juga anggota PGLII. PGLII juga tidak melihat apakah suatu sinode punya jumlah jemaat yang besar atau beberapa saja. PGLII dalam menerima keanggotaan tidak mengacu pada besarnya jumlah gereja yang dimiliki oleh satu sinode. “Takaran atau indikator PGLII sekarang ini adalah bagaimana secara bersama menyelaraskan visi sesuai motto PGLII yaitu Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”

Terkait adanya perbedaan persepsi terhadap langkah-langkah PGLII sekarang ini, Robby menganggap sebagai hal biasa dan lumrah saja. “Di PGLII ada Majelis Pertimbangan, Mereka inilah yang mengawasi dan menjaga lembaga PGLII untuk selalu berjalan dalam visi dan rel yang tepat. Mereka ini bukan orang yang digaji atau dibayar, tetapi mereka adalah para tokoh gereja, tokoh teruji PGLII yang terpanggil untuk melayani Tuhan dan menjaga marwah PGLII agar tidak keluar jalur.”

Jadi kalaupun ada yang mengatakan bahwa PGLII sudah keluar rel, “Tentu harus dipertanyakan apakah dia berada pada rel PGLII atau rel-nya sendiri yang berbeda tujuan dengan PGLII. Jadi memang lumrah kalau ada yang berpikiran seperti itu, pilihannya cuma kembali ke rel PGLII atau silahkan jalan dengan rel sendiri. Tapi jangan memaksa PGLII untuk ikut keinginannya.”

Ketika disinggung apakah perlu regenerasi di PGLII mengingat di tubuh PGLII dominan diisi oleh ‘orang-orang lama’, Robby menyebut hal tersebut tidak tepat disematkan,  tapi ia mengakui hampir semua organisasi punya masalah besar di regenerasi. “Bukan hanya di PGLII. Hal regenerasi di tubuh PGLII bukan semata menjadi tanggung jawab PGLII. Generasi muda atau generasi baru, bergantung juga pada produksi di tingkat anggota. Sinode tentu punya perangkat di tingkat daerah, wilayah dan seterusnya. Disinilah sebaiknya regenerasi digodog. Mereka inilah penghasil generasi-generasi muda atau generasi baru.”
“Kalau ada yang memasalahkan kenapa PGLII tidak diisi oleh generasi-generasi muda atau baru, silahkan mencermatinya dari anggota PGLII. Pabriknya ada di sinode dan lembaga,” tegas Robby. Yang harus dipahami sebenarnya, lanjut Robby, “Kami yang ada di PGLII karena faktor panggilan pelayanan, bukan ‘orang bayaran’. Saya tekankan lagi kalau kami ini dipanggil untuk bersekutu dan memberitakan Injil. Jadi bukan soal usia.”

“Sepanjang dia terpanggil untuk melayani dan diutus, tentu akan asing berarakan dalam PGLII. Tidak tepat kalau memaknai regenerasi di PGLII atas dasar usia. Bicara keterpanggilan dalam pelayanan kemudian digeneralisir dengan kebutuhan regenerasi di tubuh PGLII menjadi tidak sinkron.”

Kalau ada yang muda terpanggil melayani dengan benar dan diutus oleh sinode gereja untuk bergabung di PGLII “Ya silahkan saja dan tidak ada yang salah. Bukan berarti yang tua disuruh mengalah atau disingkirkan. Lebih tepatnya mari kita bersama yang terpanggil melayani, ayo kita mengerjakan pekerjaan Tuhan untuk memberkati gereja dan bangsa ini. Terlalu besar mandat ini untuk dikerjakan bila hanya dibatasi umur. Janganlah kita ikut-ikutan menyuarakan regenerasi, tapi kita sendiri kalah giat dan kalah menerapkan nilai-nilai Kristus.”

Terkoneksi dengan penyelenggaraan Munas ke XII ini, Robby Repi memaknai sebagai adanya kebutuhan strategis bagi kiprah PGLII selanjutnya. “Banyak tantangan baru, termasuk diantaranya mengelola isu-isu pluralisme, tindakan intoleran, ujaran kebencian, berita palsu atau hoaks, agresifitas media sosial yang memecah-belah.”

Musyawarah Nasional dalam organisasi identik dengan dukungan terhadap salah satu calon Ketua Umum, atau bisa juga keinginan personal untuk duduk di kepengurusan baru. “Kehendak Tuhan yang jadi, siapapun yang terpilih sebagai Ketua Umum PGLII itulah yang terbaik bagi PGLII. Ketika Tuhan memilih seseorang tak ada yang bisa menghambat. Begitupun kalau ada yang terpanggil dan bersedia dipilih tentu kita kembalikan apakah ini menjadi kehendak Tuhan, atau jangan-jangan keinginan dia dipilih sebagai Ketua Umum untuk melancarkan agenda dan kepentingan pribadinya.”
.
Kebiasaan PGLII, menurut Robby, bukan pada bagaimana seseorang melakukan kampanye-kampanye pencitraan pribadi atau mempengaruhi opini publik. “Sekarang ini semua sudah serba transparan. Jejak rekam dan kiprah seseorang akan mudah terbaca, apakah dia seorang yang mampu atau hanya sibuk pencitraan atau punya agenda pribadi tersendiri.”

Era digitalisasi sekarang ini akan merekam perilaku kita dan membuat orang banyak tahu siapa kita. "Sebaiknya duduk diam dan berdoa. Biarlah segala tugas pelayanan datang dari Tuhan dan hanya kepada Tuhan kita kembalikan kemuliaan itu.” Kuncinya bukan pamer kehebatan diri. “Tantangan PGLII Semakin Berat, Tetaplah Mempunyai Hati Melayani.” [Roy Agusta]

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…