Thursday, 17 June 2021
Share To:
feature-top

Radikalisme Menjadi Momok Baru, Dihambat Dengan Menumbuhkan Toleransi Lintas Agama


Jakarta, terangindonesia.id - Radikalisme masih menjadi momok yang perlu diwaspadai, keberadaannya terdeteksi, tidak seperti gerakan bawah tanah. Bukti keberadaan radikalisme di Indonesia terus berkembang sampai saat ini seperti yang kita temukan dimedia masa.

Dengan berkembangnya penggunaan media sosial dan memberdayakannya untuk menghembuskan paham radikalisme oleh kelompok yang anti terhadap demokrasi.
 
Saat ini penganut paham radikal semakin dimudahkan dalam penyebaran pahamnya dengan menggunakan kalangan anak muda, Seperti virus yang menebarkan penyakit yang menakutkan, dan mereka berhasil melakukan rekrutmen anggota baru, paham radikal merasuki semua sendi masyarakat tanpa pandang bulu maka tokoh-tokoh masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Mengutip Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Azyumardi Azra memaparkan, paham radikal yang menganggap pemahamannya paling benar juga telah menyusup ke sekolah menengah melalui tenaga pendidik.
 
Hasil survei dari lembaga kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga merupakan Guru Besar Sosiologi Islam di UIN Jakarta pada 2010 lalu, menunjukkan bahwa hampir 50% pelajar setuju dengan tindakan radikal.

Data tersebut juga menunjukkan 25% siswa dan 21 Guru menyatakan bahwa Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia.

Inspektur Wilayah III Inspektorat Jenderal Kemenag Hilmi Muhammadiyah memaparkan, radikalisme di Indonesia justru terus menggelinding bak bola sajlu. Keberadaannya seakan terus menggerus rasa nasionalisme, persatuan dan kesatuan, serta menimbulkan keresahan di masyarakat.

Diskusi Harmoni Kebangsaan dengan topik Radikalisme Menjadi Momok Baru merupakan salah satu upaya konkrit yang dilakukan oleh anak bangsa agar masyarakat umum dapat memahami nilai-nilai nasionalisme, mengajarkan rasa cinta kepada tanah air indonesia, saling berdialog antar anak bangsa terutama dengan kelompok kelompok radikal dari berbagai aliran agama.

Paparan radikalisme Momok Baru, dihambat dengan menumbuhkan nilai toleransi lintas agama dan memaknai Pancasila sebagai ideologi yang telah ditetapkan sebagai pijakan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia.


Jika pemahaman ideologi bangsa yaitu Pancasila telah dimiliki bagi semua lapisan masyarakat, maka warganegara Indonesia pasti memiliki imunitas terhadap paparan paham radikal, walaupun paham radikal dihembuskan, masyarakat memiliki landasan Pancasila dan memiliki iman dan beragama yang benar pasti menolak paham tersebut.


Antonius Natan
Dosen STT LETS - Lighthouse Equipping Theological School

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…