Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Dalam satu dua abad terakhir bermunculan dan saling berhadapan berbagai paham yang memiliki perbedaan tajam dalam memandang status dan kedudukan Alkitab dalam doktrin kekristenan, yang masing-masing didukung dan dikembangkan oleh teolog-teolog dari berbagai negara, khususnya yang berasal dari benua Eropa dan Amerika Utara. Paham utama yang dimaksudkan adalah Liberalisme, Fundamentalisme dan Konservatisme (yang dikenal juga Evangelical). Dalam tulisan singkat ini penulis memaparkan definisi, tokoh-tokoh, ciri pengajaran utama dan pandangan terhadap Alkitab dari ketiga paham tersebut.


LIBERALISME


A.  Definisi dan Tokoh-Tokoh

Paham Liberalisme muncul sebagai respon atas kebutuhan untuk menyesuaikan kekristenan tradisional dengan konteks nilai-nilai, pengetahuan dan intelektualitas modern yang berkembang pada akhir abad ke 18 (termasuk teori evolusi Darwin, perkembangan Enlightenment, penekanan aspek pengalaman manusia dan toleransi interdenominasi).  Beberapa nama yang dikenal adalah : Friedrich Schleiermacher (1768–1834), Albrecht Ritschl (1822–1889), Wilhelm Herrmann, Julius Kaftan, Adolf von Harnack.

B.  Ciri pengajaran yang utama

1. Agama yang benar tidak didasarkan dari otoritas eksternal
2. Kekristenan adalah gerakan yang membangun ulang kehidupan sosial (social reconstruction)
3. Kekristenan haruslah relevan dan dapat diandalkan
4. Kebenaran hanya dapat diketahui dari perubahan bentuk dan simbol-simbol
5. Kontroversi teologi adalah pada bahasanya, bukan pada kebenarannya
6. Keakurasian sejarah dari fakta-fakta dan peristiwa dalam Alkitab tidaklah penting, selama kita mengalami perjumpaan dengan Yesus dalam setiap bagian Alkitab
7. Agama yang benar adalah jalan Kristus, bukan pada doktrin tentang Kristus

C.  Pandangan tentang Alkitab

Alkitab adalah semata-mata pengalaman manusia terhadap keberadaan Allah, atau produk dari kesadaran keagamaan yang mengantar kepada kebenaran ilahi.  Kebenaran Alkitab dapat diakses secara langsung oleh akal/rasio manusia; pernyataan manusia tentang Allah harus dipahami secara harfiah karena logika dan pernyataan manusia identik dengan pernyataan Tuhan.  Alkitab adalah kesaksian manusia yang tidak tertandingi atas kebenaran ilahi,  suatu kesaksian yang pada kenyataannya mengandung tanda-tanda sejarah.  Intinya, rasio manusia memiliki peran penting dalam memperoleh wahyu ilahi,  sedangkan otoritas tertinggi dari Alkitab tidak diakui, demikian juga atas doktrin tradisional. Dengan demikian, rasio dan pengalaman manusia menggantikan otoritas Alkitab dan wahyu ilahi. Bagi kaum Liberal tidak ada sesuatu kebenaran yang mutlak,  selalu menyuarakan dunia yang terbuka dan mengakui perubahan yang konstan.

Alkitab sebagai pewahyuan yang sebanding (proporsional) menjadi konsekuensi yang logis karena wahyu Allah digabungkan melalui konsep dan model verbal, yaitu mencakup peristiwa pengungkapan diri ilahi baik dalam sejarah alkitab maupun dalam penafsiran profetik dan apostolik. Pandangan ini menyiratkan transubstansiasi kata manusia menjadi kata ilahi.  Alkitab lebih digunakan untuk mendukung sistem dogmatis; Alkitab tidak diperlakukan sebagai kendaraan Roh Kudus untuk mematahkan kesombongan dan mencabut sistem buatan manusia. Dengan demikian, kaum Liberal mengurangi isi wahyu ilahi ke dalam pernyataan deklarasi dengan mengabaikan pewahyuan yang mengandung elemen misteri, transedensi dan dinamis.  Kaum Liberal menerapkan penafsiran dengan metode kritik historis yang menekankan evolusi sejarah Perjanjian Baru, yang menolak peristiwa sejarah inkarnasi dan kebangkitan Kristus, dan mengajarkan adanya konflik antara golongan Yahudi/Jewish (Petrus) dan non-Yahudi/gentile (Paulus).

Pada perkembangan selanjutnya, dalam upayanya untuk menjadi relevan dengan jaman, kaum Liberal menolak penekanan kepada keselamatan pribadi dari hukuman kekal, karena dianggap tidak relevan lagi. Kedatangan kerajaan Allah (kingdom of God) dilakukan melalui upaya manusia, dengan demikian Injil Sosial (social gospel) menjadi pesan mereka. Kerajaan Allah tidaklah untuk waktu yang akan datang, namun di jaman ini dan sekarang juga, yaitu melalui penerapan prinsip dan etika Yesus Kristus.


FUNDAMENTALISME

A.  Definisi dan Tokoh-Tokoh

Fundamentalisme adalah gerakan yang bersifat inter denominasi dan inter konfesi, yang berkembang dan menyebar pada awal abad ke 19,  mula-mula di lingkungan gereja-gereja Protestan di Amerika, lalu meluas ke berbagai penjuru dunia. Titik awal gerakan ini adalah merupakan respon terhadap perkembangan makin kuatnya faham Liberalisme pada saat itu.  Beberapa nama tokoh yang dikenal sebagai pelopor dan pembela faham ini adalah :  Charles Hodge (1797–1878),  Archibald Alexander (A. A.) Hodge (1823–1886),  Benjamin Breckinridge (B. B.) Warfield (1851–1921), J. Greham Machen (1881-1937).

B.  Ciri pengajaran yang utama (fundamentals of faith) :

1. Pengilhaman dan kemutlakan Alkitab
2. Keilahian Kristus dan kelahiran-Nya dari anak dara
3. Kematian Kristus sebagai ganti dan penebus dosa manusia
4. Kebangkitan-Nya secara jasmani
5. Kedatangan-Nya yang kedua kali

C.  Pandangan tentang Alkitab

Alkitab adalah buku ilahi dimana elemen manusia hanyalah topeng atau tampilan luar dari keilahian . Alkitab hampir serupa dengan wahyu ilahi, sedangkan inspirasi ditafsirkan sebagai dikte mekanis. Lebih jauh lagi Alkitab ditegaskan tidak ada kesalahan bahkan dalam  masalah yang “tidak/kurang penting”, tidak ada cacat ingatan, dan tidak ada celah sama sekali kekeliruan di semua bagian Kitab Suci, kemanusiaan Alkitab ditolak dan diabaikan. Setiap kata dalam Alkitab berasal dari Allah. 

Di dalam pandangan Fundamentalisme modern, yang menggabungkan ortodoks kuno dengan pietism injili, kemanusiaan Alkitab ditolak dan diabaikan, dan kebenaran Alkitab tidak dapat dipahami menurut akal manusia. Mereka menganggap pernyataan manusia tentang Allah harus dipahai secara harfiah, bahwa logika dan pengetahuan manusia identik dengan pernyataan Allah. Pandangan docetic tentang Alkitab ini seperti yang dikatakan Criswell: ”Inilah tulisan Allah yang hidup. Setiap kalimat didiktekan oleh Roh Kudus....Di manapun di dalam Alkitab dapat kita temukan perkataan Allah. Itulah suara Allah, bukan manusia”.


KONSERVATISME,  EVANGELICAL (INJILI)

A.  Definisi dan Tokoh-Tokoh

Konservatisme atau Evangelical (injili) adalah gerakan yang sangat serupa dengan Fundamentalisme dalam aspek memelihara kekristenan tradisional (fondasional) dalam menghadapi siuasi, perkembangan teologi dan budaya modern, namun berbeda dalam menampilkan sikapnya terhadap tantangan-tantangan tersebut. Kaum injili menanggapinya dalam kerangka berpikir dan belajar secara modern, sehingga menampakkan kebebeasan intelektual, termasuk dalam penelitian teologi dan studi Alkitab.   Beberapa tokoh yang dikenal :  Harold J. Ockenga (1905-1985),  Edward J. Carnell (1919-1967),  Billy Graham, dan Carl F. H. Henry  

B.  Ciri pengajaran yang utama

1. Konversi (kelahiran baru: pertobatan, pengampunan, pembenaran dan pengudusan)
2. Otoritas (authority), Ketidaksalahan (infallibility),  Ketidakeliruan (inerrancy) dari Alkitab
3. Penebusan, Kematian, dan Kebangkitan Kristus
4. Proklamasi Injil keselamatan Kristus

C.  Pandangan tentang Alkitab

Teologi injili sangat menekankan kepada otoritas Alkitab, yang adalah firman Allah tertulis, yang memiliki peran penting dalam pembentukan doktrin karena berisi otoritas ilahi. Alkitab dipahami sebagai perwujudan dari “dual authorship” (kepengarangan ganda), bukan hanya kesaksian manusia atas pewahyuan ilahi namun pada saat bersamaan juga adalah kesaksian Allah atas diri-Nya sendiri.  Alkitab lebih daripada sekedar kesaksian manusia atas pewahyuan, namun pewahyuan yang dilakukan melalui perkataan manusia; pewahyuan ilahi bukanlah ada di dalam atau dari perkataan, namun pada saat di-iluminasi-kan oleh Roh, ia menjadi pewahyuan bagi pengikutnya. Bahkan terlebih lagi,  Alkitab bukan hanya kesaksian manusia dan medium dari pewahyuan ilahi,  tetapi juga medium dan kesaksian yang diinspirasikan secara ilahi. Setiap bagian Alkitab menunjuk kepada gereja, setiap bagiannya adalah produk dari Roh Kudus, namun tidak semua bagiannya sama-sama membuktikan karya pendamaian dan inkarnasi Yesus Kristus, kepada pemberitaan tentang pengampunan dan pemulihan yang merupakan norma formal Alkitab.

Doktrin tentang inspirasi berkaitan erat dengan apa yang tertulis dan bukan hanya dengan penulis dan pembaca dari Alkitab. Tujuan dan kehendak Allah telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus secara final, tuntas dan lengkap. Meskipun demikian, penyingkapan/pewahyuan akan makna karya Kristus secara terus menerus tetap perlu ditumbuhkan di dalam kehidupan  setiap orang dari segala usia dan jaman; bukan dalam arti pewahyuan yang baru, tetapi memberikan kejelasan dan iluminasi dari apa yang telah diketahui secara utuh dari dalam Alkitab. Pewahyuan tentang Yesus Kristus ini dapat ditemukan baik di Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB). 

Alkitab adalah firman Allah yang diwahyukan kepada bangsa Israel dan para penulis menjadi saksi atas wahyu tersebut. Kesaksian manusia tentang kebenaran ilahi ini adalah kesaksian yang ipso facto memiliki tanda pengondisian sejarah, dimana wahyu dalam bentuk kesaksian manusia ini pada tingkatan tertentu menyembunyikan wahyu ilahi dari pandangan dan pemahaman.

Hanya ada satu sumber dari pewahyuan, yaitu Alkitab, dan meskipun gereja memiliki tradisi dalam memberikan penafsiran kebenaran tentang pewahyuan, tetapi bukan menciptakan kebenaran tersebut.  Alkitab memiliki kedaulatan yang mutlak, yang tidak hanya berisi kebenaran ilahi yang diwahyukan, tetapi kebenaran pewahyuan yang utuh (whole revealed truth). Para reformator berpendapat bahwa gereja adalah hamba Firman Allah, tunduk dan di bawah otoritas Firman dan kehendak Allah, bukan sebagai tuan. Gereja ada di bawah Firman, tidak dalam posisi untuk “meng-otentikasi” atau “meng-otorisasi” Firman. Dengan demikian, gereja yang sejati adalah gereja yang menempatkan dirinya di bawah Firman, yaitu mempelai Yesus Kristus yang tidak bernoda, yang dipersatukan dan disegarkan oleh Roh Allah.

Alkitab memiliki keutamaan di atas gereja dan pengalaman keagamaan, juga atas mimpi, tanda dan mujizat.  Luther berpendapat: “Firman harus diyakini melebihi semua yang dilihat dan yang dirasakan dan yang dipahami”. Firman harus dialami, tetapi pengalaman ini adalah dari iman yang melampaui persepsi maupun kemampuan berpikir manusia. Suara Allah yang hidup berbicara kepada manusia di dalam sejarah seperti yang tercermin di dalam Alkitab. Suara ini bergema di dalam kesadaran kita, tetapi basis dan sumbernya di luar kesadaran dan imajinasi manusia.  Kesadaran, seperti juga pengalaman, dapat menjadi panduan yang dapat dipercaya hanya jika disandarkan kepada pewahyuan ilahi melalui Kitab suci. Tanda-tanda dan mujizat-mujizat memiliki tempat di dalam kehidupan iman, namun mereka bukan dipandang sebagai basis iman, tetapi sebagai iluminasi kebenaran dari iman mereka. Tanda yang paling otentik adalah yang menjadi bagian dari pesan iman itu sendiri, seperti peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dari kubur.

Pandangan teolog conservative terhadap pewahyuan yang sebanding (proportional) tidaklah menganggap salah sepenuhnya, tapi akan lebih tepat menilai wahyu yang berdimensi banyak (polydimensional), yang berkonotasi dengan peristiwa Tuhan berbicara dan pengungkapan kebenaran yang mengambil berbagai bentuk linguistik, termasuk bentuk sebanding tersebut. Dengan demikian kebenaran kecerdasan obyektif terungkap, namun formulasi di dalam Alkitab dapat dipahami melalui pembuktian bahasa manusia hanya karena adanya tindakan Roh Kudus.  

Firman Tuhan tidak pernah terbelenggu, dapat melompat, berlari bahkan tidak terikat sarana anugerah (yaitu Alkitab, khotbah atau sakramen).  Basis iman bukanlah kepada naskah yang dapat dipercaya, namun kepada karya keselamatan Yesus Kristus dan kesaksian dari Roh-Nya. Peristiwa sejarah yang tercatat di dalam Alkitab, yang dapat dipahami oleh indra manusia, bukanlah landasan iman.  Alkitab adalah sarana dimana Allah menyingkapkan diri-Nya, tetapi hanya kepada mata rohani yang terbuka, bukan kepada alasan yang alami (Mzm 119:18). Tetap harus diingat bahwa otoritas tertinggi bukanlah ada pada Alkitab, tetapi Allah yang hidup yang kita kenal dalam nama Yesus Kristus. Hanya Yesus Kristus dan Firman tentang Dia sajalah yang membangun norma keimanan kita, dimana  Alkitab sebagai bentuk formalnya.  Yesus Kristus adalah yang menyuarakan, firman Alkitab adalah perkataan-Nya sepanjang  sejarah, gereja adalah mulut yang digunakan-Nya untuk berbicara. Seperti gereja tunduk di bawah otoritas Alkitab, demikian pula Alkitab tunduk di bawah Yesus Kristus yang menjadi wujud pikiran dan kehendak Allah. Otoritas Alkitab berada di dalam konteks gereja melalui tindakan Roh Allah. Teologi injili sesungguhnya adalah identik dengan teologi Firman Allah, dimana sistem teologis dan pengakuan iman harus dijaga dan dimurnikan di bawah terang dari Firman Allah, inilah yang disebut dengan istilah proses reformasi yang tidak berkesudahan (semper reformanda).  Allah masih bebas untuk memurnikan dan membentuk ulang gereja-Nya melalui Firman yang disampaikan melalui Roh, berupa panduan dan standar yang relevan untuk setiap jaman.

KESIMPULAN

Dari uraian di bagian-bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan secara umum  bahwa :

1. Fundamentalisme muncul sebagai reaksi atas menguatnya Liberalisme dalam kekristenan tradisional, yang mana ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, kebebasan intelektual, orientasi yang makin besar kepada kemanusiaan, dan situasi-situasi spesifik yang mempengaruhi sejarah dunia (perang dunia ke 1 dan  ke 2).

2. Di antara kedua kutub Fundamentalisme dan Liberalisme, maka posisi Evangelical (Injili) yang bersifat konservatif tepat di tengah-tengah kedua pandangan tersebut, meskipun secara doktrin tentang Alkitab ada kesaman Injili dengan Fundamentalisme, yang berasal dari pandangan kaum Reformator (yang dipelopori Luther dan Calvin), yaitu Sola Scriptura.

3. Dalam perjalanan waktu, pandangan Evangelical bertumbuh dan menjangkau ke banyak bagian dunia, bersinggungan dan melahirkan berbagai corak dan denominasi gereja, karena meskipun pandangannya konservatif namun bersikap modern, terbuka dan cenderung fleksibel dalam penerapan doktrinnya dibandingkan kaum Fundamentalis. Oleh sebab itu, pandangan Injili ini yang dinilai lebih sehat dibandingkan kedua pandangan lainnya yang lebih ekstrim.

4. Teologi Evangelical (Injili) berpegang kepada prinsip bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis dalam bahasa manusia yang terbatas namun memiliki sifat infallibility dan inerrancy karena Roh Kudus yang mengilhami penulisnya untuk meneruskan wahyu ilahi tentang diri dan keberadaan Allah, yang dinyatakan melalui perjalanan sejarah dan budaya manusia dalam rentang waktu yang panjang. Ketidaksempurnaan bahasa dan budaya manusia tidak mengurangi wibawa (otoritas) Alkitab sebagai wahyu ilahi yang menjadi sumber utama dalam menurunkan doktrin-doktrin dan kebenaran Allah untuk gereja. Berita utama wahyu ilahi yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah tentang Firman yang menjadi daging/manusia (yaitu Yesus Kritus), yang masuk dalam sejarah manusia melalui kelahiran-Nya oleh anak dara Maria (menunjukkan bahwa Yesus 100% manusia), dan karena pengorbanan kematian-Nya sebagai wujud penebusan atas dosa manusia, serta kebangkitan-Nya dari kematian sebagai bukti kemenangan atas kuasa maut (menunjukkan bahwa Yesus 100% Allah). 

5. Kelemahan Liberalisme :

a. Sangat menekankan intelektualitas dan penerapan disiplin keilmuan (sains) yang mendasarkan metode pembuktian, data empiris, deduksi, logika dan subyektifitas yang overdosis
b. Sangat meninggikan kemampuan (rasio), kesadaran dan pengalaman manusia atas fakta dan kebenaran (termasuk keyakinan keagamaan)
c. Mengabaikan aspek supranatural dan metanarasi, yang dipandang tidak sesuai perkembangan jaman atau dianggap sebagai takhayul (mitos) saja; pribadi Yesus dianggap 100% manusia saja
d. Metode penafsiran yang diutamakan adalah kritik historis dan gramatikal, dengan tidak memprioritaskan (mengabaikan) faktor iman dan menolak karya aktif Roh Kudus dalam menolong proses penafsiran teks Alkitab di sepanjang jaman

6. Kelemahan Fundamentalisme :

a. Menganggap semua bagian/teks Alkitab adalah sakral dan memiliki bobot yang sama (flat view) karena sepenuhnya Firman Allah
b. Menafsirkan semua teks Alkitab secara harfiah dan mengabaikan simbol-simbol, genre bahasa dan budaya manusia yang memiliki keterbatasan; pribadi Yesus dianggap 100% Allah saja
c. Bersikap keras dalam menghadapi perbedaan dalam penafsiran atau prinsip keimanan yang dimiliki, dengan menganggap pandangan lain sebagai upaya penyesatan dari pihak musuh, sehingga muncul sikap separasi/pemisahan

7. Kelemahan Evangelical :

a. Sikap menerima modernisme dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda, jika tidak diwaspadai, dapat menggerus pandangan tentang prinsip-prinsip utama keimanan Kristen
b. Motif dan semangat kuat dalam proklamasi berita Injil kepada kalangan penganut keyakinan lain atau ke dalam konteks budaya manusia yang berbeda-beda di seluruh penjuru dunia, seringkali berakibat kompromi doktrin kekristenan (terjadi sinkretisme), baik yang disadari maupun tidak disadari
Kiranya paparan singkat ini menjadi berkat bagi umat Allah di Indonesia. Soli Deo Gloria.

Penulis :
Ir. Yesaya Yanto Sutrisno (yesaya.yanto@gmail.com) Mahasiswa Magister Teologi di Semarang


SUMBER KEPUSTAKAAN
1. Donald G. Bloesch, Essentials of Evangelical Theology Vol 1,  SanFransisco:Harper & Row Publisher, 1978
2. Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Rev. & Exp., Chicago:Moody Publisher, 2008
3. Wayne Grudem, Systematic Theology, GrandRapids:Zondervan, 2000
4. John D. Woodbridge, Frank A. James III, Church History Vol 2, GrandRapids:Zondervan,  2013
5. Aritonang Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta:BPK, 2003

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…