Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI: TRAGEDI ATAU AKSELERASI?

 
Kemunculan virus Covid-19 pada awal Maret tahun 2020 di Indonesia telah merugikan berbagai sektor kehidupan. Pandemi ini tidak hanya membahayakan kesehatan masyarakat dan melemahkan perputaran roda ekonomi, tetapi juga sangat memengaruhi pelaksanaan pendidikan di tanah air yang harus beradaptasi dengan kenormalan baru.

Berkaitan upaya pemerintah dalam menekan laju penyebaran virus Covid-19 dengan memberlakukan pembatasan sosial, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Tak dipungkiri, dalam prosesnya ditemukan kendala bahwa ternyata tidak semua daerah mampu menjalankan PJJ melalui daring dengan efektif.

Masalah yang kerap muncul antara lain masih banyak peserta didik yang tidak memiliki gawai sebagai media belajar di rumah, akses listrik dan internet yang tidak rata di semua daerah, serta pemberian tugas yang menumpuk oleh guru sebagai alternatif pengganti pembelajaran tatap muka yang membebani peserta didik. Belum cukup sampai di situ, banyak orang tua yang merasa terbebani karena harus mengambil alih peran guru untuk mengajari anak-anaknya di rumah, anak-anak pun semakin bosan karena hanya belajar dan melakukan aktivitas di dalam rumah, tak sedikit juga orang tua yang mengeluhkan biaya pendidikan tetap harus dibayarkan penuh sementara pendapatan mereka berkurang karena dampak pandemi yang tak kunjung usai.

Pada situasi pandemi seperti ini, apakah pendidikan di masa sekarang akan berubah menjadi tragedi, atau malah akan memberikan potensi akselerasi kebijakan merdeka belajar di Indonesia?

Pelaksanaan PJJ masih akan terus berlangsung selama tahun ajaran 2020/2021 sesuai dengan panduan pelaksanaan pendidikan selama pandemi yang telah ditandatangani oleh Kemendikbud, Kemendagri, Kemenag dan Kemenkes pada 15 Juni 2020. Kabar baik dari pelaksanaan PJJ adalah setiap satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk melakukan inovasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan tidak berpatok pada ketuntasan kurikulum agar dapat mengimplementasikan kebijakan Merdeka Belajar yang telah dicanangkan Kemendikbud, yakni menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Hal itu dikemukakan Nadiem Makarim dalam seminar web di Jakarta pada tanggal 5 Mei 2020.

Pembelajaran jarak jauh bukanlah ancaman bila kita mampu beradaptasi dan memaknai bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruangan kelas atau gedung sekolah, murid bisa belajar di mana saja dan guru bisa mengajar dengan menggunakan cara dan alat apa saja tanpa harus bertemu secara langsung sebagai wujud implementasi dari education 4.0 yang menitikberatkan pada kreativitas dan inovasi. Teknologi dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran jarak jauh, ada begitu banyak informasi di internet dan juga berbagai aplikasi yang bisa menjadi sumber belajar. Bagi satuan pendidikan yang berada di pelosok daerah bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa karena dapat memanfaatkan benda-benda yang dapat ditemui di sekitarnya atau kekayaan alam di daerahnya sebagai media dan sumber belajar. Kuncinya tidak terletak pada alat bantu yang digunakan, tetapi terletak pada diri pribadi pelaksana pendidikan itu sendiri, apakah mau mengembangkan diri untuk menjadi kreatif dan inovatif atau hanya berdiam diri dan menyalahkan keadaan yang dirasa menyulitkan dan mengganggu kenyamanan diri.

Fokus pembelajaran di era industry 4.0 haruslah pada upaya menemukan dan mengembangkan potensi di dalam diri peserta didik serta pembentukan karakter, tidak hanya sebatas proses mentransfer informasi belaka. Pengembangan potensi diri peserta didik diawali dengan tes minat dan bakat, bimbingan karir yang mengarahkan mereka untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, memberikan latihan-latihan praktis yang berkaitan dengan kecakapan hidup dengan berorientasi pada kebutuhan di lingkungan, penyusunan kurikulum yang komperhensif dengan mengembangkan kurikulum muatan lokal masing-masing satuan pendidikan, serta langkah strategis lainnya. Langkah-langkah tersebut tetap dapat dilakukan meskipun dalam pembelajaran jarak jauh, guru bisa memanfaatkan berbagai media komunikasi yang ada untuk menerapkannya.

Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Indonesia menyatakan bahwa “setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Maksud dari pernyataan tersebut ialah setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan di rumah. Setiap rumah menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak-anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Sikap sosial dan spiritual yang membentuk karakter peserta didik. Oleh karena itu, orang tua dan anggota keluarga yang lebih dewasa lainnya pun memiliki andil yang besar untuk mengajarkan karakter baik selama anak-anak belajar dari rumah. Guru dan orang tua harus menjalin kerja sama yang untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang dalam diri peserta didik, tentu akan jauh lebih efektif apabila guru dan orang tua dapat menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai karakter yang baik melalui tutur kata dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Peran guru bukan hanya sebatas sebagai pemberi informasi, tetapi menjadi mentor, konselor dan pelatih (coach) bagi setiap peserta didik. Bagaimana mungkin menerapkan ketiga hal tersebut melalui pembelajaran jarak jauh? Proses pendampingan (mentoring), konseling dan pelatihan (coaching) tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka, karena kuncinya terletak pada kualitas hubungan yang dibangun antara guru dengan peserta didik. Kualitas hubungan menumbuhkan rasa percaya di dalam diri peserta didik dan mau terbuka kepada gurunya sehingga dapat dibimbing dengan efektif. Bagi guru baru atau peserta didik baru yang sebelumnya tidak saling mengenal, pasti akan kaku dalam memulai interaksi di kelas pada awal tahun ajaran. Guru perlu membangun hubungan melalui komunikasi yang efektif dengan memanfaatkan media telekomunikasi, komunikasi dapat dilakukan di luar jam pelajaran sesuai dengan kebutuhan. Peran “tiga sekawan” itu sebenarnya bukan hanya berlaku untuk guru, tetapi bagi orang tua juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Oleh karenanya orang tua harus menjalin hubungan yang penuh kasih dengan anak-anaknya tanpa membeda-bedakan satu sama lain.

Konseling dibutuhkan untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Khusus untuk PAUD, konseling dilakukan dengan menggunakan teknik play therapy. Sebaiknya guru membuat jadwal pertemuan konseling daring dengan setiap peserta didik secara berkala. Selama satu semester, minimal setiap murid akan dikonseling sebanyak dua kali. Bila ada murid yang sedang menghadapi masalah, mereka akan dikonseling secara konsisten sampai masalahnya dapat terselesaikan dengan baik.

Pelatihan (coaching) dilakukan untuk membantu peserta didik menemukan tujuan dan makna hidup sehingga menjadi ahli di bidangnya. Sebaiknya pun pelatihan terjadwal secara berkala. Setiap murid akan mengikuti tes bakat dan minat terlebih dahulu, kemudian diarahkan untuk menemukan tujuan dan makna hidup. Mereka akan diarahkan mengikuti berbagai kompetisi yang sesuai dengan potensinya sehingga mereka semakin tajam dan ahli.
Pendampingan (mentoring) perlu dilaksanakan untuk memantau perkembangan setiap peserta didik mulai dari awal tahun ajaran sampai berakhir dan dievaluasi secara berkala. Pendampingan dilakukan setiap hari dalam kelompok kecil berdasarkan usia, dengan guru pendamping (mentor) sesuai jenis kelamin murid. Di dalam kelompok-kelompok tersebut, guru pendamping dan murid dapat mendiskusikan masalah-masalah yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, murid-murid bukan melulu bercerita mengenai keluh-kesah dalam belajar, tetapi juga mengenai pergaulan, kehidupan di dalam keluarga masing-masing, dan lain sebagainya. Guru akan memberi masukan sesuai dengan kondisi peserta didik dan membimbing mereka sehingga dapat bertumbuh efektif.

Di sekolah kami (Nafiri Study Center), ada seorang murid yang bergabung saat naik kelas XI SMA dari salah satu sekolah di Jakarta.  Awalnya guru kelas merasa berat menerima kehadirannya karena sikap dan perilaku yang ditunjukkannya kurang baik dan membuat teman-teman lainnya di kelas merasa kurang nyaman, belum lagi “catatan merah” karakternya di sekolah lama yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah itu cukup membuat guru kelas merasa was-was. Hal itu tidak dibiarkan berlangsung lama, sang guru kelas menyadari bahwa selama ini matanya ditutupi dengan cerita masa lalu anak itu sehingga sulit menilai secara objektif terhadap perubahan yang terjadi dalam diri muridnya. Guru kelas mulai belajar menerima dia apa adanya tanpa menghakimi dan terus melayani dengan baik dan memberi perhatian tulus melalui konseling untuk menyembuhkan luka di masa lalunya dan mentoring untuk mengarahkannya dengan sabar sehingga murid itu merasa diterima, dikasihi dan perlahan-lahan terjadi perubahan karakter dalam hidupnya.

Cerita selanjutnya berdasarkan pengalaman seorang murid kelas XII SMA yang mulanya bingung dengan masa depannya, ia ingin sekali menjadi sutradara namun belum tahu bagaimana mewujudkannya. Guru kami yang berperan sebagai pelatihnya (coach) segera meresponi hal itu dengan memberikan tes untuk menemukan kekuatan dalam dirinya. Hasil tes ditindaklanjuti dengan pemilihan tempat magang yang sesuai dengan potensinya, saat ini dia menikmati apa yang sedang dikerjakan selama magang di bidang multimedia. Wow, demikianlah manfaat dari “tiga sekawan” yang bila dilaksanakan dengan sepenuh hati dan konsisten. Bukankah jadi menyenangkan bila guru melihat perubahan baik dalam diri muridnya dan murid bisa menemukan dan mengembangkan potensi dalam dirinya? Guru senang, murid senang, orang tua senang, semua berakhir senang.

Pada akhirnya, bila setiap guru, orang tua murid dan setiap elemen masyarakat memerhatikan ini dengan baik serta bertekad untuk menerapkannya bersama, bukan mustahil akan terjadi akselerasi dalam mengimplementasikan kebijakan merdeka belajar di Indonesia. Merdeka bangsaku, merdeka pula pendidikanku.

 


 Harry Gideon Sanjaya, M.Pd

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Sonny

Sangat mencerahkan.....thanks

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…