Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Pembunuhan Karakter Dengan Mengubah Fakta Kebenaran, Berita dusta & Kebohongan


Jakarta, terangindonesia.id - Mengutip Wikipedia, Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah usaha-usaha untuk mencoreng reputasi seseorang. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju. Pembunuhan karakter merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik dan dapat berupa argumen ad hominem.

Istilah ini sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa di mana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang itu.


Praktik pembunuhan karakter atau upaya merusak reputasi untuk menjatuhkan orang lain sekarang ini semakin menjadi-jadi dan viral di media sosial. kondisi yang terjadi di lapisan atas maupun lapisan bawah, dari lembaga politik hingga organisasi kemasyarakatan, bahkan lembaga keagamaan sekalipun.

Pembunuhan karakter umumnya dilakukan dengan mengubah fakta kebenaran, berita dusta, kebohongan serta melemparkan tuduhan melanggar norma hukum, agama, maupun sosial secara terus menerus tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu.
Pembunuhan karakter dapat dilakukan melalui media sosial maupun media mainstream secara terbuka bahkan membentuk hal-hal negatif terkait pihak yang menjadi sasaran. Akibatnya, reputasi seseorang menjadi rusak, karir terhambat, hingga dikucilkan dari masyarakat.


Presiden Joko Widodo yang menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan dan memiliki reputasi bagus secara nasional maupun kancah internasional tidak luput dari serangan pembunuh karakter. Berita-berita politik nasional dan media sosial mengumbar pembunuhan karakter yang dilakukan lewat kata-kata maupun gambar. Pengaitan Jokowi dengan ideologi komunis dengan merancang narasi yang tidak masuk akal tentu saja sangat mengganggu rasa demokrasi yang sedang berkembang di republik ini.

Secara teori pembunuhan karakter lebih banyak dilakukan oleh kubu-kubu dalam pertarungan politik secara anonim, sehingga tidak diketahui siapa pelakunya. Pembunuhan karakter yang dipraktikkan di era media sosial seperti saat ini pun akan marak selama para buzzer masih mudah termakan oleh wacana-wacana yang berupa kampanye hitam itu.

Budaya saling menghormati dan etika moral yang selama ini berada ditengah keluarga dan masyarakat seakan sirna begitu saja, Pemimpin agama, tokoh masyarakat yang berpendidikan dan dikenal religius, abdi negara maupun tokoh pensiunan berbintang dipundaknya bisa berbicara di media mainstream menyuarakan pendapat pribadi maupun pendapat kelompoknya seakan pemerintahan yang ada saat ini tidak berbuat apapun dalam pembangunan negeri sebagai pembunuhan karakter.

Mereka menunjukkan diri secara kesatria, seakan menjalankan Demokrasi tetapi sangat jelas bertentangan dengan kepribadian bangsa yang memiliki filosofi Pancasila. Tampaknya pembunuhan karakter dalam politik masih akan terus berkembang atau tumbuh subur di lahan nusantara terutama dalam kontestasi Politik tahun 2024.

Menjadi tugas kita bersama melakukan pendidikan politik untuk masyarakat dengan yang tingkat kesadaran dan pemahaman politiknya masih rendah. Pendidikan politik harus memberikan pencerahan bagi masyarakat agar sadar politik menjadi agenda penting sampai masyarakat awam benar-benar tercerahkan. mengenal kebenaran, kebaikan dan keadilan serta bermartabat.

Meminjam istilah baru bahwa Cancel culture merujuk pada gagasan untuk "membatalkan" seseorang dengan arti memboikot atau menghilangkan pengaruh orang tersebut baik dimedia sosial maupun nyata adalah mirip pembunuhan karakter. Cancel culture dianggap sebagai kelanjutan dari Woke Culture dan Call-out culture yang juga menjadi fenomena tersendiri di media social. Woke culture muncul dari para aktivis atau orang yang memang peduli soal masalah sosial dan menggunakan media sosial sebagai salah satu corong menyampaikan ide dan opini mereka.

Mari kita bangkitkan Woke culture yang menyadarkan dan membangun negeri, mempertahankan budaya bangsa yang saling mengormati. Mengkampanyekan Pancasila sebagai filosofi luhur yang mempersatukan anak bangsa.



Antonius Natan
Dosen STT LETS - Lighthouse Equipping Theological School

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…