Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Jakarta, terangindonesia.id - Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) akan mengadakan  Musyawarah Nasional XII pada 16-20 Maret 2020 di Medan, Sumatera Utara. Acara Pembukaan akan dilakukan di GBI Rumah Persembahan, sedangkan persidangan dilakukan di  GBI Tabernacle of David, Hotel JW Marriot Medan.

TerangIndonesia mengatur janji bertemu dengan Pdt. Freddy Edward Situmorang yang disebut oleh banyak kalangan layak maju sebagai salah satu Calon Ketua Umum PGLII. Freddy menepis dan mengatakan bahwa ia tak berambisi untuk mencalonkan diri mengisi posisi puncak di organisasi gerejawi PGLII.

Freddy menyampaikan adanya riak-riak kegelisahan di beberapa Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah terkait dengan adanya upaya mengubah aturan main dalam pemilihan nanti. Meski tak mengelak ada kemungkinan Ketua Umum PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang M.Th memiliki peluang untuk terpilih kembali.

Freddy Edward Situmorang menemukan bahwa Munas PGLII kali ini akan berbeda dengan Munas PGLII sebelumnya. “Munas yang lalu, sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sesuai dengan Munas terakhir di Banten, Pengurus Provinsi dan Pengurus Wilayah masing-masing memiliki satu suara dalam pemilihan Ketua Umum. Misal ada 27 provinsi, berarti ada 27 suara. Kalau ada 100 kabupaten, berarti ada 100 suara. Dalam Munas PGLII kali ini saya dapat bocoran dan bukti tertulis bahwa aturannya akan dirubah, artinya ada upaya untuk di amandemen.”

Munas 2020 di Medan, menurut alumni Dallas Global Proclamation Academy, yaitu suatu pelatihan untuk menjadi “Trainer of Pastor”  yang diselenggarakan di Dallas Theological Seminary Texas-USA,  hitungan itu mau dihapus dan Pengurus Wilayah dikelompokkan dan hanya punya 1 hak suara. “PW Bali dan PD Nias sudah menyatakan penolakannya bila aturan tersebut dirubah. Mirisnya, sebagian besar Pengurus Wilayah tidak mengetahui kalau nantinya suara-suara mereka dikonversi menjadi satu suara saja. Hak Suara utama diambil dari anggota PGLII yaitu sinode-sinode gereja dan Lembaga-lembaga/ Yayasan”.  Demikian pula syarat usia Ketua Umum yang awalnya 40-60 tahun mau dirubah menjadi 40-70 tahun, ini adalah preseden yang kontra produktif. 

Mengenai hal kepemimpinan Nasional, Freddy yang pernah terlibat di Pengurus Pusat PGLII dengan jabatan terakhir sebagai Komisi Jaringan Pelayanan Misi dan juga sebelumnya menjabat sebagai Komisi Infokom lebih cenderung untuk dilakukan Regenerasi, sesuai dengan isu utama yang dibahas dalam General Assembly dari World Evangelical Alliance yang dilakukan di Sentul pada November 2019 yang lalu, yaitu : “3G  (Global, Gender and Generation)”. 
“Saya melihat bahwa PGLII sekarang ini butuh figur muda dari generasi muda yang selama ini kurang diberi ruang untuk mengekspresikan profesionalisme-nya dalam bidang pelayanan. PGLII butuh orang muda yang punya visi jauh ke depan. Enerjik dan dinamis serta menjadikan Amanat Agung sebagai fokus utama dalam menjalankan misi kelembagaan PGLII. Persekutuan para kaum Injili Indonesia juga perlu lebih ditingkatkan lagi sehingga terjalin kerjasama para anggota untuk Misi bersama. PGLII mestinya menjadi “mesin penggerak” Amanat Agung di Indonesia dan bahkan dunia. Tokoh Senior tetap diperlukan untuk memberikan nasehat dan arahan agar tetap berjalan sesuai dengan “DNA” organisasi.

“Sekarang ini, maaf saja, pimpinan PGLII terlalu sibuk  melakukan pertemuan dengan pemerintah, DPR dan tokoh-tokoh lintas agama. ini bagus, hanya saja PGLII tidak fokus pada prioritas utama-nya. Motto PGLII itu jelas, yaitu ”Dipanggil untuk bersekutu dan memberitakan Injil””. Terang Tokoh muda PGLII yang sangat aktif melakukan kegiatan Pelatihan Penginjilan Pribadi sejak 26 tahun yang lalu ini.

Jangan dilupakan, lanjut Freddy, “Semua yang hadir di Munas adalah tokoh-tokoh yang diutus oleh gereja-nya atau lembaga atau yayasan masing-masing. Mereka memiliki kapasitas untuk menjadi Pengurus Pusat, termasuk memiliki peluang yang sama  untuk dipilih sebagai Ketua Umum. 

“Jaman sudah berubah, banyak hal yang perlu diadaptasi seiring dengan Perkembangan jaman dan Teknologi yang berubah sangat cepat.  kalau tetap dipimpin oleh generasi orang tua, PGLII akan lambat berkembang. Coba kita perhatikan berbagai perusahaan dan organisasi kelas dunia saat ini, mereka dipimpin oleh generasi muda yang tanggap akan perubahan jaman. PGLII tidak boleh terjebak pada nostalgia sukses masa lalu. Sementara kebutuhan akan perubahan berbasis teknologi informasi dan networking secara global tidak dapat dielakkan dan sudah menjadi kebutuhan PGLII masa kini.”

Artinya, PGLII butuh ber-kolaborasi agar dapat bergerak cepat dan inovatif. Tentunya agar lebih memudahkan ketika harus memobilisasi massa dan membangun networking internal dan eksternal.
Perlu yg bisa memobilisasi networking internal dan eksternal. PGLII harus terus menerus menggarami ladang pelayanan di Indonesia, asia dan dunia, jangan sampai PGLII tergeser dengan sendirinya karena lambat mengikuti perkembangan jaman.

“Harapan saya, Munas nantinya perlu menerapkan fairness, adil, netral, jujur dan tidak manipulatif. Majelis Pertimbangan dan Panitia Munas harus netral. Demikian juga dengan Kantor Sekretariat PP PGLII harus netral, tak berpihak kepada calon tertentu.” [Jerimia R. Vegas]

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…