Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Jakarta, terangindonesia.id - Sularso Sopater telah menorehkan tinta sejarahnya ketika ia mengikuti jejak mendiang ayahnya, Ponidi Sopater, menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta, DIY. Ia sendiri mengakui proses menjadi pendeta bukan sebuah kebetulan, melainkan sebagai bagian dari sejarah yang sudah ditentukan oleh-Nya.

Laman Tribunsolo menuliskan, Ibunyalah yang mengarahkan jalan hidup Sularso, putra bungsu dari tujuh bersaudara, agar melanjutkan kependetaan Ponidi. Lalu, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, Sularso mengesampingkan cita-citanya semula untuk menjadi insinyur pertanian. Sebenarnya keinginan menjadi insinyur pertanian juga terinspirasi dari bakat ibunya yang bertangan dingin berolah tanam.

Informasi berpulangnya Pdt Dr Solarso Sopater, Ketua Umum PGI pada 1987-2001, diterima TerangIndonesia.id dari Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom. "Saya menilai beliau sebagai seorang Pemimpin yang kebapakan. Beliau menghargai setiap orang sebagai pribadi yang utuh, tidak sungkan untuk menyapa terlebih dahulu, dan selalu siap untuk menolong."

Awalnya beliau terpilih secara mendadak karena menggantikan Pdt Dr SAE Nababan yang mengundurkan diri karena terpilih menjadi Ephorus HKBP. Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) ini pernah menjabat Direktur Lembaga Pembinaan Kader GKJ/GKI Jawa Tengah, berkedudukan di Yogyakarta. Meraih gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan USA tahun 1975, lalu mengajar dokmatika di STT Jakarta sejak tahun 1978. Gelar doktor teologi diperoleh dari STT Jakarta. Sejak tahun 1989 sampai 1998 menjadi Ketua Umum PGI.

Pdt Dr Solarso Sopater juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPA RI) periode 1993-2003 dan anggota MPR RI pada 1987. Lahir 9 Mei 1934 di Yogyakarta dan meninggal sore tadi pukul 18.47 karena gagal ginjal dan gangguan jantung.

Beliau meraih gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan AS, 1975, dan Doktor dari STT Jakarta dan pernah juga menjadi Rektor STT Jakarta.

Berikut ini kami re-post kembali salah satu postingan Pdt Dr. Sularso Sopater di laman Facebook-nya tertanggal 10 Juli 2019 :

SEBUAH AJAKAN.
Revolusi industri ke-4 disambut dg gegap gempita oleh hampir semua orang. Berbondong2 masuk ke kereta super cepat dan kurang menyadari korban2 yg menggelepar tertabrak. Generasi milenial dan kita semua secara tak sadar cenderung berubah menjadi "binatang buas ekonomi yg mengerkah dan memangsa" sesama kita yg lemah dan terbelakang.

Apakah kita tidak harus siuman dan sadar akan akibat yg terjadi bila proses ini dibiarkan tanpa penyeimbang?

Bagaimana azas Pancasila, utamanya azas ke-5, akan tergilas rata, tanpa ada yg mencegahnya?
Mari kita menjadi siuman dan waspada!

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…