Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Mencari Generasi Muda Petani untuk Masa Depan Pertanian Indonesia


Aset utama pertanian adalah petaninya. Sebuah negeri dengan tanah yang subur, air berlimpah dan matahari sepanjang tahun, tidak otomatis menjadi sejahtera tanpa peran manusianya. Kerja keras, kreatifitas, kemauan belajar dan kemauan bersinergi adalah kunci mengelola sumber daya alam pertanian.

Karena itulah membangkitkan anak- anak muda yang akan menjadi agripreuneur menjadi pilar pembangunan pertanian. Bagaimana pertanian Indonesia di masa depan tergantung dari apa yang akan dilakukan oleh generasi baru petani Indonesia. Jika kita dapat membangkitkan generasi baru petani Indonesia yang memiliki mental seorang agripreneur, maka kita akan mampu menjadi negara agraris yang maju dan terkemuka, dimana faktor alam yang sudah mendukung akan dikelola oleh orang-orang yang besemangat dan kreatif.

Itulah yang terus menerus kami sampaikan sejak 2011, ketika kami mulai berbicara kepada orang-orang yang datang ke KPPMD, bahwa adalah sangat mendesak dan penting untuk mulai berbicara kepada anak-anak muda kita bahwa ada kesempatan dan peluang di dunia pertanian. Peluang untuk menjadi agripreneur masa depan, dimana kami menyebutnya Future Farmer, yang jika saja mereka cukup tekun dan kreatif, dengan didukung arahan dan pembinaan yang tepat, mereka akan bisa berhasil.

Mereka tidak perlu berdesakan dalam kereta api commuter line dan busway dengan kebanyakan orang yang mencari pekerjaan di perkotaan. Malahan, dengan keberhasilan yang akan mereka alami, mereka dapat memberikan lapangan kerja bagi anak-anak muda lain dan memberikan kesempatan kemitraan dengan petani lain yang selama ini terus terpinggirkan sebagai petani tradisional.

Saya membayangkan munculnya para pahlawan (wira) tani yang akan menarik konsentrasi kehidupan tidak melulu ke kota-kota besar, tetapi akan mulai ada daerah-daerah pertanian yang ramai, karena disana akan mulai terbangun menjadi sentra-sentra komoditas. Dan bukan hanya sebagai sentra penanaman komoditas, tetapi juga sentra pengolahan komoditas tersebut untuk memiliki nilai tambah.

Setiap peningkatan nilai tambah tentu saja akan memberikan lapangan pekerjaan, dan ini akan membuat daerah sentra tersebut menjadi area yang ramai dengan orang-orang yang produktif. Kita tidak ingin bahwa hanya satu daerah menjadi sentra dari segala komoditas, tetapi terbangun banyak sentra komoditas berdasarkan kesesuaian agroklimat wilayah dengan setiap komoditas tertentu.

Bahkan ini yang akan bisa terjadi, anak-anak muda yang telah meninggalkan desa-desa menuju kota untuk mengadu nasib, akan kembali membangun desanya karena sekarang telah tersedia peluang di tempat asal mereka, karena ada orang-orang yang telah mengawali sebuah pembangunan pertanian berorentasi masa depan. Akan terjadi arus balik urbanisasi, karena masa depan ada di lahan-lahan pertanian yang selama ini diabaikan dan dianggap tidak memiliki masa depan.

Desa-desa yang dibangun sebagai sentra komoditas akan memiliki daya tarik, apalagi jika kita dapat membangun iklim usaha tani yang bersinergi dan kondusif untuk munculnya para wirausaha tani yang baru. Saya berharap generasi baru petani Indonesia akan membangun iklim usaha yang tidak melulu memikirkan untung banyak dalam waktu yang cepat, tetapi mengabaikan perlunya dibangun sinergi dan menciptakan pemerataan kemakmuran diantara orang-orang yang rajin dan kreatif. Tentu saja dalam hal ini kita tidak akan memberikan peluang kepada orang malas dan bodoh (artinya tidak mau belajar dan tidak bersedia diajar).

Masa depan adalah milik mereka yang mau bekerja dan berfikir. Bahkan saya berfikir, mereka yang memiliki keterbatasan-keterbatasan dapat kita bantu untuk memaksimalkan kelebihan mereka, misalnya mereka yang tidak punya lahan dapat bekerja sama dengan mereka yang punya lahan banyak, atau mereka yang cacat fisik, misalnya lumpuh dapat bekerja dalam bidang kerja yang tidak dibatasi oleh cacat mereka, misalnya dapat menjadi marketing online, atau pencatat stok, atau pengelola web dan customer service.

Saya melihat betapa besar kemajuan akan dicapai jika generasi baru petani Indonesia dapat bangkit, dan mereka ini memiliki spirit sinergi dan maju bersama. Kapitalisme telah melahirkan banyak konglomerat, namun kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin jauh. Kewirausaan yang mandiri, memberdayakan mereka yang mau bekerja dan kreatif dan kemauan bersinergi dan berorganisasi akan dapat memakmurkan bangsa lebih cepat dan merata. Sederhana saja hitungannya, jika sebuah jaringan bisnis ingin memiliki aset dan pengaruh sama seperti salah satu konglomerat yang sudah ada saat ini, maka yang kita perlukan hanya sepuluh ribu orang di sepuluh ribu kecamatan bersinergi membangun sebuah usaha bersama yang saling terkait. Begitulah yang saya bayangkan dalam cara kita mengelola komoditas yang kami sebut emas hijau Indonesia, misalnya bagaimana kita menggerakkan dua puluh ribu petani jeruk di dua ratus sentra jeruk yang tersebar di daerah-daerah potensial jeruk. Maka kemampuan produksi dan pengaruh kita bisa menetapkan harga yang wajar bagi petani dan konsumen dan kekuatan sosial sejumlah ini dapat merubah sebuah peraturan yang berkaitan dengan tata niaga jeruk agar berpihak pada petani dan konsumen secara adil.

Jika ribuan agripreuneur yang bergerak di komoditas tertentu bersinergi, dan mereka mampu bergerak as one man, maka mereka akan mampu mempertahan pasar yang adil, dimana bukan hanya petani yang diuntungkan tetapi juga memberikan kepastian kepada konsumen bahwa harga akan bisa stabil dan mereka akan tetap diuntungkan dengan kestabilan harga. Hanya konsumen yang unfair yang akan merasa tidak senang dengan sinergy between farmer, karena konsumen seperti itu hanya berharap harga murah tanpa berfikir bagaimana dengan kehidupan ekonomi orang-orang yang memproduksinya. Semangat dari konsumen seperti itu adalah sama dengan ruh di jaman penjajahan yang menikmati enaknya kopi dan rempah murah dari produk yang diproduksi oleh petani kerja paksa di negeri jajahan yang terpaksa agar bisa tetap hidup.

Apa yang saya bayangkan mengenai petani masa depan dan masa depan pertanian bukanlah munculnya beberapa konglomerat hasil bumi Indonesia, tetapi munculnya ratusan ribu mikro entreprise di domain pertanian yang bersinergi dalam kelompok-kelompok kemitraan, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan. Jika ini dapat terwujud maka bukan hanya pendapatan nasional (GNP) kita yang akan naik, tetapi juga pendapatan per orang akan ikut naik secara riil, bukan karena kita membagi GNP dengan jumlah penduduk.

Jika petani sejahtera dan konsumen dapat menjangkau produk-produk pertanian kita dengan harga yang wajar, maka kelangsungan yang adil seperti ini akan memperkokoh fondasi perekonomian kita. Saya tidak pernah setuju jika harga produk pertanian harus murah, karena jika demikian berarti ada yang dikorbankan, yaitu kepentingan petani. Jika saya harus mengambil kebijakan maka saya akan memproduksi beras yang harus dijual seharga Rp. 8.500,- per kg dengan memberdayakan 1 juta petani di lahan 1 juta hektar dari pada saya akan memberikan izin bagi satu konglomerasi besar untuk memproduksi beras dan menjualnya seharga Rp. 7.750,- di satu juta hektar lahan yang sama. Saya akan menganggap bahwa Rp. 750,- per kg adalah kontribusi seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut membangun negeri ini sejahtera sebagai negara agraris maju dan terkemuka.

Jadi jika para petani masa depan sedang disiapkan untuk bangkit di negeri ini, maka negaraharus mulai memikirkan pelindungan berbagai komoditas yang akan menjadi emas hijau dari negeri ini untuk kita berikan pada mereka sebagai tambang emas.

Selamat datang masa depan pertanian Indonesia bersama para petani masa depan!

Rana Wijaya
Kebun GPA Katulampa Bogor

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…