Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Hari ke 64 pasca Munas XII


"Maraknya Ibadah On Line Berpotensi Menggeser Minat Jemaat Terhadap Gereja dan Pengkhotbah Lain (1)"

"tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi....," Mazmur 19:5


1. Sejak tahun 1980 dunia telah memasuki revolusi digital menggeser teknologi mekanik dan elektronik analog. Pada paruh tahun 2005an gereja-gereja memasuki era digital, antara lain secara perlahan mulai menggeser Alkitab cetak ke elektronik. Teori-teori pertumbuhan gereja, dari Donald McGavran ke Peter Wagner dan ke George Barna berkembang secara dinamis, dimana gereja-gereja konservatif ikut bergeser pada model dan bentuk pengelolaan dan ibadah gereja yang dinamis. George Barna mengatakan gereja harus melihat peluang perubahan zaman sebagai peluang memahami dunia perusahaan, peluang seperti suatu pasar. Pada sisi lain, datangnya era revolusi industri 4.0, informasi-teknologi yang antara lain meliputi kecerdasan buatan (artifial intelegence) ikut menggeser peran manusia kepada mesin. Pada era ini muncul bentuk teknologi daring/on line dan bisnis e-commerce. Simak Alibaba Group yang telah menggoyang banyak perusahaan2 besar dari otomotif, ritel, perhotelan, produk rumah, departemen store, transportasi, kuliner, berdampak pada pengurangan tenaga kerja di berbagai bidang. Di Indonesia beberapa gerai besar seperti matahari, Lotus, Debenhams, Ramayana, Giant tutup konon dampak dari bisnis on line (bisa saja pendapat ini tidak terlalu benar), lalu muncul bisnis bukalapak, lazada, gojek, okezone, tokopedia yang melakukan delivery order (tanpa ongkos kirim), semua bisa dilakukan dari rumah...bisnis dari rumah.

2. Adanya pandemi covid19, berdampak pada banyak negara melakukan lockdown di Indonesia PSBB, perusahaan dan kantor tutup, begitu banyak tenaga kerja di PHK, gedung tempat ibadah (gereja) ditutup, segala sesuatu dilakukan dari dan di rumah. Maka gereja-gereja yang telah lebih dulu gunakan perangkat digital, yang telah terbiasa melakukan ibadah secara live streaming, on line, tidak begitu sulit melakukan ibadahnya. Berbeda dengan gereja-gereja yang konservatif, kebanyakan tidak siap dengan situasi pandemi ini, disamping tidak tersedianya SDM yang handal, juga tidak siapnya fasilitas untuk live streaming. Kehidupan gereja berubah, keuangan menurun, sulit memberi honor kepada pendeta atau pekerja gereja, bahkan beberapa gereja yang masih kontrak di gedung-gedung umum, karena tidak ada penerimaan uang, sudah putus kontrak. Nasib gereja-gereja pasca pandemi masih menjadi tanda tanya, akan tetap penuh atau bertambah banyak? Waktu yang membuktikan. Akibat pandemy puluhan juta orang di seluruh dunia kehilangan pekerjaan dan kehilangan pendapatan.

3. Pandemi covid19, telah berdampak  sangat signifikan terhadap media sosial (youtube, whatsapp, instagram, dll) dimana setiap gereja lokal melaksanakan ibadah on live bahkan tidak saja pada hari minggu, bahkan setiap hari. Maka isi medsos hari ini sangat marak dengan ibadah secara life streaming atau on line. Coba saja berselancar di medsos, pasti akan menemukan begitu banyak tayangan ibadah (sudah, sedang dan akan) dari ribuan gereja. Hal ini seperti dua sisi, positif dan negatif. Yang positif tidak perlu diuraikan lagi, pasti banyak orang diberkati selama 24 jam setiap harinya. Tetapi pada sisi lain, akan bersentuhan dengan minat jemaat terhadap gereja dan pengkhotbahnya. Artinya, dengan maraknya ibadah on line, setiap orang dapat mengakses dan memilih ibadah dari gereja mana saja, kenal atau tidak kenal, dapat melihat apakah suasana ibadahnya sangat baik (wah), penyanyi altar, pemusik, sound system, lighting sangat lengkap (istilah sekuler, profesional), ditambah pengkhotbahnya sudah terkenal dan tak diragukan lagi. Sebenarnya jauh dari saat pandemi situasi ini sudah terlihat. Banyak orang Kristen, terdaftar di gereja A, beribadah di gereja B, meninggal dunia di gereja C. Tetapi bagi tayangan ibadah on line yang sangat sederhana, pelayan altar dan pengkhotbah yang dianggap membosakan (tidak terkenal), sekalipun itu gereja sendiri, pengkhotbah dan gerejanya, kemungkinan malah tidak diminati. Ingat gereja sudah seperti pasar, jika dianggap tidak memberi nilai tambah atau tidak mampu ikuti perubahan zaman akan ditinggalkan. Nah, ibadah on line, karena sangat banyak pilihan, berpotensi menggeser minat jemaat untuk lebih menyukai gereja dan pengkhotbah dari gereja lain, yang umumnya sangat dikenal. Gereja dan ibadah on line sudah seperti food court, hari ini makan makanan Indonesia, besok makanan Jepang, lusa makanan eropa dan seterusnya. Dalam hal ini tidak mengenal ikatan permanen. Salam Injili



Ronny Mandang

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…