Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

MERUNTUHKAN ALTAR KESIBUKAN


II Raja Raja 23:10
Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh.


KESIBUKAN kerja dan melayani telah menjadi Berhala dan candu. Kesibukan yang tidak dikontrol membuat banyak keluarga menderita secara emosi. Anak defisit kasih sayang, istri kesepian dan suami kelaparan cinta. Pelariannya berbeda-beda.....tapi yang pasti semua terluka dengan kadar yang berbeda.

Sampai seorang Corrie Ten Boom menulis, “Jika iblis tidak bisa membuat Anda menjadi orang jahat, ia akan menggoda Anda menjadi Orang sibuk".

Banyak orang bekerja, bisnis dan melayani di gereja telah menjadi budak kerja.  Mereka jauh lebih menikmati aktifitas mereka sendiri daripada menikmati Allah, keluarga bahkan diri mereka sendiri. Mereka membenamkan diri sibuk bekerja  hingga mengalami kekeringan sukacita.

ALTAR KESIBUKAN

Pada jaman Raja Yosia yang  takut akan Tuhan memusnahkan semua sesembahan orang Yehuda. Ada yang menyembah dewa Baal, dewa matahari, dewa bulan, serta dewa api bernama Molokh. Yosia membakar semuanya  ditumbuknya halus-halus menjadi abu, kemudian dicampakkannyalah abunya ke atas kuburan.

Masa kini memang orang tidak lagi membuat altar mengorbankan anaknya kepada dewa api atau dewa Molokh, tapi banyak orangtua membangun altar kesibukan dan membakar anak mereka dengan cara lain.

Mereka sibuk bekerja dan mengabaikan anak-anak lalu dibakar oleh rasa kesepian, kekecewaan dan kemarahan. Kalau anak yang dikorbankan kepada dewa molokh langsung mati seketika, tapi anak anak yang dikorbankan orangtua dalam altar Kesibukannya mati ribuan kali.

Anak-anak tidak berdaya di rumah. Mereka hanya bisa membunuh rasa rindu kepada orang tua. Terbakar oleh rasa iri hati melihat teman-temannya yang punya keluarga bahagia.

Mereka mematikan keinginan bermain atau mendengar cerita dongeng orangtuanya yang kelelahan. Lama kelamaan mereka mematikan semua keinginan pribadi kepada orangtuanya. Karena hanya berbuah kemarahan dan kekecewaan

Akhirnya mereka menghibur diri sendiri, bermain game atau menikmati sosial Media. Berselancar di dunia maya sepuasnya. Tapi malang, mereka tetap dimarahin atau diomelin sebagai anak yang malas dsb. Kembali hati mereka panas seperti dibakar oleh api kemarahan.

TERJEBAK AMBISI LUPA VISI

Ada beberapa alasan kenapa banyak orangtua larut dalam kesibukan kerja dan mengabaikan hal-hal penting dalam hidupnya, seperti hubungan dengan Tuhan, relasi dengan keluarga hingga kesehatannya sendiri

1. Tanpa sadar kita berambisi mengejar sesuatu yang dulu ia tidak dapatkan waktu kecil. Termasuk apresiasi yang dulu tidak didapatkan dari orangtua, dengan cara menciptakan panggung pribadi baik lewat prestasi, karya atau ketenaran

2. Melarikan diri dari lingkungan keluarga yang tidak bahagia. Hubungan yang kering dengan pasangan dan anak-anak.

Itulah juga yang saya alami, membuat anak kami menjadi korban

Setelah beberapa tahun memulai karier sebagai penulis dan konselor, saya menerima banyak undangan untuk melayani di berbagai kota dan negara. Saya menjadi lupa tanggung jawab utama, menjadi Ayah

Setelah Moze naik kelas 4 SD, saya banyak keluar kota dan bisa terbang 100 hingga 130 kali setahun untuk seminar atau mengajar. Saya selalu pulang dalam keadaan lelah, dan sulit memenuhi kebutuhan Moze untuk ngobrol dan bermain. Tak jarang saya malah suka marah yang tidak jelas kepada Moze.

Moze sering sedih, kecewa, dan kesepian, sampai ia akhirnya menarik diri dari berkomunikasi dengan saya. Dalam kondisi itu ia mengenal game online dan kecanduan selama 7 tahun lamanya. Hubungan kami semakin memburuk, dan komunikasi kami miskin. Kesehatan fisik dan emosi Moze juga menurun. Demikian juga iman dan prestasi akademisnya.

Setelah saya menyadari situasi ini, saya memilih untuk pindah ke Salatiga, kota dimana Moze menempuh pendidikannya di SMA international.

Saya memilih untuk mengurangi drastis undangan pelayanan untuk memperbaiki hubungan yang rusak. Sebagai ayah yang gagal, saya bersandar kepada Tuhan dan kehendakNya untuk mencari tahu apa yang kami harus lakukan untuk Moze.

Saya mengurangi tuntutan kepada Moze. Saya menjadikan Moze sebagai sahabat dan rela menerima Moze apa adanya. Kami juga mencari bantuan beberapa psikolog untuk menemukan akar masalah kami dengan Moze. Saya meluangkan waktu untuk berdiskusi dan curhat dengan Moze, dalam rangka menyelesaikan luka kami bersama.

Saya memperjuangkan pendidikannya, sehingga ia bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah ke Amerika, di Dallas Baptist University. Akhirnya, dalam bulan Januari 2016, Moze bertemu dengan Kristus yang mengubah kehidupannya.

PESAN UNTUK PARA AYAH

Pola kecanduan dalam keluarga beragam, bisa menimpa semua anggota unit di dalamnya. Bisa dialami Kakek, Ayah, Ibu, Anak ataupun cucu.

Saya sendiri pernah terjebak dengan candu kesibukan. Candu bekerja, sampai lupa tugas utama menjadi suami dan Ayah di rumah.

Akibatnya relasi dengan anak-anak miskin. Salah satunya anak kami Moze menjadi kecanduan game. Karena saya jarang di rumah, dia kesepian dan melarikan diri dengan game online. Dampaknya sangat buruk, sangat lama dan merusak banyak hal kesehatan mental dan relasi keluarga. Kami sempat mencari bantuan beberapa psikolog dan Konselor, dan Tuhan membuka jalan.

Dalam bagian lain moze curhat:

Papa  banyak berkorban sejak aku duduk SMA. Menemani aku di Salatiga lalu mengirim aku ke Amerika. Tapi Aku merasa  sejak kecil aku tidak melihat bapak punya struktur hidup yang baik, yang bisa aku baca dan teladani. Bapak tidak punya tujuan parenting, dan lalai mengajarkan banyak hal atau skil yang penting untuk aku. Seperti mengelola uang, berteman dll. Ilmu konseling bapak bagus, tapi skil parenting kurang.

Untung Papa Cerita, aku bisa memaafkan Papa karena Papa juga korban dari Kakek, papa banyak luka emosi. Selain itu Papa berjuang mendirikan dan membesarkan lembaga LK3.



Saya bersyukur  memutuskan pindah ke salatiga, memberi waktu lebih banyak dengan anak selama 4 tahun. Menolak undangan pelayanan. Menebus waktu membangun bonding yang hilang dengan moze.

Meski proses panjang rekonsiliasi saya dengan anak terus berjalan. Sudah 7 tahun sejak 2013. Dia sangat berubah setelah kami kirim kuliah ke US, menjadi pembicara dan pelatih bagi banyak anak muda

Moze kemudian menuliskan pengalamannya sebagai pecandu game, ateis dan penderita depresi berjudul MORE THAN JUST A GAME

Sebagai catatan akhir ada beberapa saran saya khususnya kepada para Ayah:

1. Kenalilah anak baik-baik sejak kecil, terima dan kasihi tanpa syarat
2. Beri anak kebebasan menjadi dirinya, belajar gagal dan menerima atau merayakan kegagalannya. Sekali lagi anak bukan sumber kebanggaan, kalaupun gagal kita tetap bangga dan menghargainya
3. Fokuslah pada kelebihan anak, bukan kekurangannya.
4. Utamakan Hak bukan kewajiban anak. Salah satunya kehadiran, menjadi Ayah yang aktif.
5. Fokus pada relasi bukan prestasi anak.
6. Fokus pada akar bukan buah
7. Kompak dengan Ibunya
8. Kalau kondisinya krisis cari bantuan
9. Bangun  harapan kepada Tuhan yang menitipkan anak itu kepadamu
10. Kalau anda sudah tidak bisa bicara kepada anakmu bicaralah kepada Tuhan yang menitipkan anak itu kepada mu.


Rekan hambaNya

Senin, 12 OktOBER 2020, 09.00-12.00 WIB yang akan datang Keluarga Kreatif, LK3 akan mengadakan zoominar dengan tema

MERUNTUHKAN ALTAR KESIBUKAN: Kehidupan Pemimpin yang Lebih sehat, seimbang & dinamis*

Bagaimana tetap sehat & berfungsi di tengah padatnya agenda kerja? Apa peran kita sebagai keluarga & rekan kerja?
Mari belajar bersama dengan :

Thema & Fasilitator:

Pdt. Dr. Julianto Simanjuntak (Chairman LK3)
"Meruntuhkan Altar Kesibukan"

Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua Umum Sinode GBI)
"Kehidupan Pemimpin Yang Lebih Sehat, Seimbang & Dinamis"

Pdt. Dr. Daniel Ronda (Ketua Umum Sinode GKII)
"Kesehatan Finansial Pemimpin"

Ichwan Chahyadi MSc (Executive Director LK3)
"Kesehatan Emosi Pemimpin"

Jika berminat dapat mendaftar secara online
Daftar Online: http://bit.ly/Zoom-MAKP

Semoga tulisan ini bermanfaat


Julianto Simanjuntak
Orang bijak Peduli Konseling
Keluarga Kreatif, LK3

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…