Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Kisah Pedagang Sayur Menjadi 'Pelopor' Pencegahan Perkawinan Anak



Indotang sehari-hari berkeliling dari pulau ke pulau, menjajakan sayuran kepada warga di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Setiap berinteraksi dengan para pelanggannya, ia menyuarakan pentingnya hak-hak anak dan ajakan untuk tidak menikahkan anak-anak di bawah umur.

Praktik perkawinan usia anak mengusik benak seorang pedagang sayur dan seorang remaja, hingga membuat mereka tergerak melakukan kegiatan menekan angka pernikahan dini yang masih tinggi di Indonesia.

Perempuan paruh baya itu datang dari jauh ke Jakarta pada pertengahan Desember lalu. "Turun dari pesawat, handphone saya ndak dapat sinyal. Sampai hari ini belum ada juga," ujarnya sambil mengotak-atik telepon genggam versi lamanya.

Perempuan itu bernama Indotang. Ia adalah warga asli Pulau Kulambing, Desa Mattiro Uleng, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. "Sehari-hari kerjaan saya menjual sayur keliling di pulau. Beli (bahan dagangan)nya di daratan," jelasnya kepada BBC News Indonesia, di sela-sela acara peluncuran Gerakan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak (GEBER PPA), di Jakarta, Selasa (18/12).

Ia diundang untuk menerima penghargaan sebagai pelopor pencegahan perkawinan anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

"Kami sedang melakukan pencegahan perkawinan anak di semua pulau (di Kabupaten Pangkep)," ujarnya dengan dialek khas Pangkep.

"Kalau saya jalan ketemu ibu-ibu, saya selalu singgah, kasih nasihat, kasih dorongan, bilang 'jangan lakukan itu (perkawinan anak)'. Apalagi kalau dia membeli (sayur di gerobak saya), saya selalu diskusi 'jangan mau kasih kawin anakmu, dampaknya begini-begini'."


3.500 Perempuan Di Bawah Umur Menikah Setiap Hari

Berdasarkan data badan PBB, UNICEF, satu dari empat perempuan Indonesia menikah di bawah usia 18 tahun. Rata-rata, sekitar 3.500 anak dinikahkan setiap harinya.

Sedangkan secara global, 15 juta anak perempuan menjadi pengantin setiap tahunnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 pun mencatat hal yang sama. Sebanyak 25,71% pernikahan adalah perkawinan anak, di mana 23 provinsi memiliki prosentase di atas angka nasional.

Perkawinan anak dinilai rentan eksploitasi, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kematian ibu dan bayi, hingga melanggengkan rantai kemiskinan.

Bagi Indotang, kegelisahan soal perkawinan anak muncul dari pengalamannya sendiri.

"Kita saja berkeluarga -kawin- itu (usia) 20 tahun, sudah cukup umur, tapi masih saja terjadi itu KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), karena masih belum memahami ini (hak-hak perempuan)," ungkap Indotang yang sekarang menjadi kepala LSM Sekolah Perempuan Pulau Kulambing itu. "Apalagi yang di bawah umur," tambahnya.

Menurut Indotang, perkawinan anak di daerahnya telah membudaya sejak lama. Para orang tua akan menikahkan anak gadis mereka dengan pemuda setempat. Alasannya dua, untuk meringankan beban ekonomi keluarga dan agar mereka tidak menjadi perawan tua.

"'Bagaimana nantinya kalau dia bercukup umur ndak ada mau yang lamar?' Itu kehawatiran ibu-ibu. Tapi (kan) tidak dijamin itu, Tuhan (yang) menentukan, jodoh itu di tangan Tuhan," jelasnya.

Indotang tahu betul apa yang akan terjadi kepada anak-anak yang dipaksa menikah. Berbagai pengorbanan -yang sesungguhnya adalah bentuk pelanggaran hak anak- harus dilakukan, mulai dari merawat anak, mengurus rumah, hingga akhirnya putus sekolah.

Ketidaktahuan soal reproduksi, ketidakstabilan emosi, serta belum matangnya aspek biologis pengantin di bawah umur, berpotensi menyebabkan terjadinya KDRT yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi saat melahirkan, katanya lagi.

Namun, meyakinkan para orang tua akan risiko yang ditanggung anak-anak mereka setelah menikah muda, bukan perkara mudah. "Susah. Tidak gampang memasuki (meyakinkan) ibu-ibu," ujar Indotang.
"Ada juga yang melawan, bilang 'kenapa kau cegah (anakku untuk menikah)? Itu kan bukan anakmu sendiri. Anakku, masa depan anakku ada di saya'."

Tapi ia tidak menyerah. Indotang tetap membujuk para ibu untuk memikirkan nasib anak-anak mereka. "Jangan kayak begitu, bu. Jangan kayak berpasrah, kasihan anak."

Jerih payah Indotang tak sia-sia. Lima tahun ia bergelut memperjuangkan hak anak dengan mencegah perkawinan usia anak berbuah manis. Dalam pengamatannya, angka perkawinan anak di daerahnya mulai menurun sejak 2016.
"Bahkan saya berhasil mempengaruhi si anak ini, 'jangan mau dikawinkan sama mama'. Dampaknya, masyarakat terutama yang ibu-ibu dan anak mulai mengerti, terbuka sudah pikirannya," ungkap Indotang tersenyum.

BBC News Indonesia

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…