Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Jakarta, terangindonesia.id - Ketua Umum Visi Indonesia Unggul (VIU) menyampaikan pidato Peringatan Hari Lahir Pancasila. Berikut transkrip pidato selengkapnya : 


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini tanggal 1 Juni 2020, kita tetap berkesempatan merayakan Hari Lahir Pancasila walau dalam situasi yang tak ideal. Hari Lahir Pancasila selalu mengundang kita merenungkan kembali komitmen kita sebagai warga negara yang baik, yaitu warga negara yang menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar laku hidup bermasyarakat dan bernegara. Pancasila merupakan intisari nilai-nilai luhur yang telah dikandung dalam relung-relung jiwa nenek moyang bangsa-bangsa di Nusantara.

Pancasila inilah yang mempersatukan kita sebagai bangsa yang bineka. Tuhanlah yang memberikan kita kodrat keberagaman itu, baik suku, bahasa, warna kulit, maupun adat-istiadat. Predestinasi Tuhan inilah yang menuntut kita meresponsnya dengan sikap yang layak, yaitu kerelaan hidup berdampingan dengan saling menghormati dan bergotong-royong sebagai satu bangsa. Untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati dan bergotong-royong sebagai satu bangsa, kita membutuhkan perekat, dan perekat itu bernama Pancasila. Sekali lagi, perekat itu bernama Pancasila.

Pancasila pernah diganggu, gigoyang, diuji kesaktiannya pada tanggal 1 Oktober 1965, dan Pancasila kita terbukti kesaktiannya. Terbukti ketangguhannya. Terbukti kedahsyatannya. Namun, akhir-akhir ini Pancasila kita kembali diuji kesaktiannya. Politik identitas, fitnah politik, dan hoax adalah musuh-musuh yang menguji kesaktian Pancasila. Hari ini, tepat di Hari Lahir Pancasila, saya menyerukan, mari kita hadapi musuh-musuh Pancasila itu, Saudara-saudara. Sekali lagi, mari kita hadapi musuh-musuh Pancasila itu, Saudara-saudara!

Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote adalah rajutan nusa yang berisi keberagaman. Berbagai suku, berbagai bahasa lokal, beragam adat-istiadat, pluralitas agama, kepercayaan serta golongan, itu semua yang membentuk Indonesia yang kita cintai ini. Bineka Tunggal Ika bukan rumusan slogan yang dibuat "sehari jadi," namun itu merupakan hikmat yang dimiliki nenek moyang kita sejak ribuan tahun lalu dalam menghayati kehidupan berbangsa. Kebinekaan ini adalah anugerah, merupakan pemberian Sang Khalik bagi kita, sehingga kita wajib memelihara kebinekaan itu dengan penuh tanggungjawab.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hari Lahir Pancasila pada tahun 2020 ini kita memperingatinya dalam suasana prihatin. Banyak saudara sebangsa kita yang meninggal dunia akibat pandemi virus corona. Kita semua bersedih. Saya pun menangis karena banyak sekali anak kandung Ibu Pertiwi yang menjadi korban virus tak kasat mata ini. Namun, krisis ini bukanlah akhir. Krisis ini bukanlah tiang gantungan bagi kita. Bukan kamp Auschwitz bagi kita. Justru krisis ini adalah suatu kesempatan besar bagi kita untuk bangkit. Krisis ini adalah "momentum prima" bagi segenap bangsa Indonesia untuk menyonsong visi Indonesia Unggul. Krisis ini mendorong kita untuk belajar mengatasi badai yang ganas, dan saya yakin bahwa karena di dalam nadi kita mengalir darah nenek moyang kita yang gagah berani, maka kita pasti sanggup ke luar dari pandemi ini sebagai pemenang. Sekali lagi, sebagai pemenang.

Mari kita belajar dari negara Jerman yang saat ini berangsur pulih dari krisis akibat virus corona. Apa rahasia keberhasilan bangsa Jerman? Apa yang Pemerintah mereka lakukan? Apa yang rakyat mereka lakukan? Mari kita pelajari keberhasilan mereka. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, "niteni, niroke, nambahi." Kita perlu "niteni" atau mengamati keberhasilan Jerman mengatasi krisis, kita perlu "niroke" atau meniru keberhasilannya, dan bahkan "nambahi" atau menambahkan apa yang kurang dari keberhasilan dari salah satu negara maju di Eropa itu.

Saudara sekalian, "niteni, niroke, nambahi" merupakan langkah praktis yang selayaknya bisa kita lakukan. Sebagai warga yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, mengamati dan meniru keberhasilan bangsa lain bukanlah yang tabu, melainkan sebuah ekspresi kerendah-hatian kita sebagai manusia yang berfilsafat Pancasila. Kita bukan bangsa pecundang, melainkan bangsa yang tangguh. Kita mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, maka kita yakin Dia takkan membiarkan dan meninggalkan kita. Dengan munajat dan ikhtiar kita, saya terlalu percaya bahwa kita bisa normal kembali. Ya, kita bisa normal kembali.

Normal kembali berarti kita bisa hidup seperti sebelum pandemi ini memukul bangsa kita. Normal kembali berarti kita bisa beraktivitas seperti sedia kala, berkarya, belajar, dan melayani satu sama lain seperti sebelum Covid-19 ini menyerang. Jangan menyerah, Saudaraku! Sekali lagi saya katakan, jangan menyerah! Kita bisa normal kembali. Seorang ibu di Puglia, Italia, mengatakan kalimat yang menjadi viral di media sosial, "Andra tutto bene!" Ya, "Andra tutto bene," artinya semua akan baik-baik saja. Perkataan ini luar biasa. Di tengah dampak mengerikan akibat virus corona di Italia, kalimat "Andra tutto bene" itu meneduhkan, memberi semangat, mengobarkan asa, dan menunjukkan belas kasih. Demikian juga slogan "kita bisa normal kembali" tidak berarti mengingkari peristiwa buruk yang tengah terjadi, bukan pula suatu utopia, tetapi perkataan ini mengajak kita untuk melihat jauh melampaui hari ini: bahwa masih ada harapan di hari depan. Masih ada harapan di hari depan, Saudaraku.

Dengan menghayati Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bineka Tunggal Ika, Pemerintah dan rakyat Indonesia pasti bisa melalui ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang timbul karena pandemi ini. Pada Hari Lahir Pancasila ini, kita didorong untuk hidup rukun, bersolidaritas, dan bergotong royong demi membawa negeri ini ke luar dari krisis. Dengan Pancasila, negara Indonesia adalah teladan masyarakat global dalam membangun kehidupan yang damai dalam kemajemukan dunia. Maka dari

itu Saudara sekalian, saya mengundang segenap komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Saya mengajak kita semua menjaga Pancasila kita itu. Pemahaman dan habituasi Pancasila perlu terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, kurikulum pendidikan, fokus pewartaan media massa, dan dialog di media sosial selayaknya menjadi bagian dalam pendalaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila itu.

Saudara sekalian yang saya hormati, Tidak ada pilihan lain, kita perlu menghabituasikan lagi Pancasila pada hari-hari ini. Jangan biarkan Pancasila kita itu redup dimakan gelapnya arogansi sektarianisme. Mari kita satukan hati, pikiran, dan tenaga demi persatuan dan kesatuan bangsa kita. Mari bergotong royong dan bersolidaritas! Kita pasti bisa atasi krisis ini. Jangan sampai ada satu pun oknum dalam kekuasaan yang menciderai kepercayaan rakyat dengan mengkorupsi dana atau bantuan dari Pemerintah kepada masyarakat terdampak pandemi. Mari berbela rasa! Sekali lagi, mari berbela rasa! Jaga perdamaian dan jaga persaudaraan di antara kita. Kita adalah anak-anak kandung Ibu Pertiwi Indonesia. Kita menghidupi filsafat Pancasila. Kita pasti menang menghadapi krisis ini. Selamat Hari Lahir Pancasila.

Jakarta, 1 Juni 2020

Horas Sinaga, S.H.

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…