Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

KEKERASAN DAN KEJAHATAN SEKSUAL:  INDIKATOR KEBOBROKAN MORAL BANGSA?


Pendahuluan


Belum terlalu lama di ingatan kita berita-berita mengejutkan dan menyedihkan tentang kasus-kasus kekerasan seksual yang melibatkan begitu banyak korban yang masih berusia dini (yaitu kategori usia remaja), dan begitu luas wilayah kejadiannya sehingga sepintas dapat dinilai telah terjadi peningkatan dan perubahan perilaku moral yang luarbiasa di bumi Indonesia yang kita cintai ini.

Yang juga turut menambah keprihatinan kita semua, bahwa lokasi terjadinya kekerasan dan/atau kejahatan seksual tersebut juga terjadi di lingkungan yang kita anggap sebagai “the safest place” yaitu tempat ibadah, yaitu dalam lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang dianggap memiliki kesadaran moral dan kerohanian yang lebih tinggi daripada masyarakat pada umumnya.   

Apakah yang sebenarnya sedang terjadi? Fenomena sosial ini penulis coba angkat ke dalam tulisan singkat yang memaparkan sebagian kecil dari kondisi kesehatan masyarakat kita yang sangat plural, dinamis dan juga kontradiktif dalam beberapa aspek kehidupannya, sebagaimana masyarakat dunia yang mengalami gelombang kejut akibat bertubi-tubi kemajuan teknologi, keterbukaan yang sekonyong-konyong, berbagai faham global yang menyerbu secara simultan, sehingga pada akhirnya sendi-sendi kehidupan masyarakat yang relatif terlindung selama ini terhantam dan berhadapan dengan wajah peradaban baru yang disebut modernisme dan post modernisme.

Apakah masyarakat kita yang terbentang dari ujung Timur ke Barat, ujung Utara ke Selatan memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi gelombang baru tersebut. Adakah korelasi peningkatan kekerasan/kejahatan seksual dengan hal-hal yang disampaikan di atas? Untuk memvalidasi kebenaran atas hipotesis ini tentunya bukanlah suatu tugas yang mudah karena melibatkan penelitian multidisipliner, penelusuran yang runut dan sistematis juga observasi dalam periode waktu tertentu terhadap kecenderungan-kecenderungan yang dapat membawa seorang calon pelaku kekerasan seksual kepada sebuah keputusan dan tindakan tersebut.

Namun tulisan ini tidak akan memaparkan sejauh itu, tetapi menghubungkan beberapa fakta dan hipotesis yang telah terbentuk di tengah masyarakat, khususnya kalangan penegak hukum, terhadap sebab dan akibat sebuah kasus kekerasan seksual. Tulisan ini dimaksudkan sebagai alarm bagi semua pihak yang masih menaruh perhatian, memiliki kepedulian dan berempati dengan para korban yang terus berjatuhan, untuk bersama pemangku kepentingan lain di negeri ini memperkecil dan mengantisipasi timbulnya gelombang korban kekerasan seksual yang makin besar di masa-masa mendatang. Semakin besar gaung yang disuarakan melalui alat-alat kenegaraan (baik institusi maupun produk hukumnya), lembaga-lembaga sosial yang terkait, bersama dengan lembaga-lembaga keagamaan yang tumbuh subur di bumi Indonesia ini, maka penulis percaya akan memberikan dampak sebagai rem atas fenomena kebobrokan moral yang satu ini.


Bagaimana Sikap Umat Kristen di Indonesia

Sebuah kutipan bebas ungkapan yang menarik dari Bill Hybels dalam bukunya “Holy Discontent: Fueling the Fire That Ignites Personal Vision” (2007, Zondervan), yang mendefinisikan Holy Discontent - HD (ketidakpuasan kudus) adalah ketika anda mengalami roh yang gelisah, geram, dan frustrasi setelah melihat kebobrokan, kekejaman, bahkan kehancuran sebuah tatanan di dunia ini, yang (rasa frustasi tersebut) selaras dengan hati Tuhan, sehingga mendorongnya untuk mengambil tindakan positif untuk mengubah dunia.

Beberapa contoh tokoh alkitab dan tokoh dunia yang digerakkan oleh HD disebutkan di antaranya adalah :
- Musa, membebaskan penderitaan dan perbudakan bangsa Israel dari Mesir
- Daud, melepaskan bangsa Israel dari ancaman bangsa Filistin (melalui tokoh legendaris Goliat)
- Nehemia, membangun dan memotivasi bangsa Israel dari kehancuran akibat pembuangan dari Babilonia
- Martin Luther King Jr, memerangi ketidakadilan, perbudakan dan rasisme di Amerika yang berujung kehilangan nyawanya
- Mother Teresa, memelihara dan memberi harapan kembali kepada orang yang terabaikan dan dianggap sampah masyarakat di India

Dibandingkan peristiwa-peristiwa di atas, apakah tingkat kekerasan seksual di Indonesia dapat dianggap masih jauh di bawah level urgensinya? Adakah yang berpikir demikian?

Beberapa contoh kasus yang menjadi headline kekerasan seksual yang terekspose di media massa sejak awal tahun 2020, yang penulis percaya hanyalah setitik dari puncak gunung es (tip of iceberg), yaitu di antaranya (12 kasus) :

https://news.detik.com/berita/d-5096656/sodomi-6-bocah-pemuda-di-indragiri-hulu-riau-ditangkap-polisi
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5095487/geger-terungkapnya-persetubuhan-sepasang-anak-dibanyumas
https://regional.kompas.com/read/2020/07/15/08000931/uang-belanja-tertinggal-di-rumah-ibu-dapatisuami-perkosa-putrinya-kok-tega
https://news.detik.com/berita/d-5084232/pelindung-anak-di-lampung-diduga-perkosa-jual-abg-sejak-januarijuni
https://news.detik.com/berita/d-5087366/305-anak-korban-eksploitasi-seksual-wn-prancis-kemensos-siapberi-pendampingan
https://news.detik.com/berita/d-5088344/kasus-kekerasan-perempuan-naik-75-selama-pandemi-corona
https://majalah.tempo.co/read/hukum/160765/cerita-anak-altar-gereja-herkulanus-merahasiakanpemerkosaan-yang-dialaminya
https://surabaya.tribunnews.com/2020/03/07/kronologi-pendeta-hl-ditangkap-polda-jatim-jadi-tersangkapemerkosaan-tutup-wajah-dan-tertunduk
https://jateng.suara.com/read/2020/07/28/102622/beri-uang-jajan-rp50-ribu-ayah-perkosa-2-putrinya-di-kamar-masing-masing--page-2
https://jatim.suara.com/read/2020/07/27/151941/siswa-smp-perkosa-adik-sejak-usai-8-tahun-kini-lahirkan-bayi-prematur
https://news.detik.com/berita/d-5134771/dosen-di-palembang-yang-seks-oral-dengan-anak-jalanan-dipecat-dari-kampusnya
http://kmp.im/AGARK8 Gadis Diperkosa Ayah Kandung Selama 8 Tahun, Polisi: Korban Takut Sehingga Tak Berani Menceritakannya

Daftar ini belum termasuk semua kasus perkosaan yang terjadi, dan akan terus bertambah setiap minggunya, bahkan mungkin lebih tinggi jika semakin banyak anggota masyarakat yang ikut peduli dan mengamati lingkungannya lebih cermat.

Bahkan dari sebuah sumber yang kompeten, disampaikan bahwa kasus-kasus yang terjadi di dalam institusi pendidikan pun sebenarnya juga tidak kalah menyeramkan, meskipun biasanya diakhiri dengan upaya damai dan janji pelaku/oknum guru untuk tidak mengulangi perbuatannya (kesepakatan non formal yang ditujukan lebih untuk melindungi reputasi dari sekolah yang dimaksud, namun bukan pemulihan total terhadap korban apalagi pelaku kekerasan seksual tersebut).

Demikian pula, yang mungkin sudah dapat diprediksi (bukan sebuah hal yang mengejutkan), adalah sebagian pelaku umumnya adalah juga korban di masa lalu yang mengalami kekerasan yang serupa namun tidak mengalami pemulihan total (yang dikenal sebagai efek Zombie).

Anak sejak usia dini, laki maupun perempuan, apalagi meningkat ke usia remaja, adalah calon potensial menjadi korban dari orang-orang yang telah rusak sejak dari awal (zombie) tapi kemudian memiliki kesempatan berbuat kejahatan karena kedekatan, status, jabatan ataupun kekayaannya. Sungguh menyedihkan dan sekaligus menakutkan bagi para orang tua di jaman ini terhadap masa depan anak-anak mereka.

Kekhawatiran penulis terhadap fenomena gunung es kekerasan seksual, bukanlah tidak beralasan. Masa pandemic Covid19 memang dapat dianggap sebagai pemicu yang mendorong peningkatan kekerasan seksual, namun juga sekaligus menyingkapkan betapa penyakit masyarakat ini (kebobrokan moral seksual) telah terjadi sebelumnya, terlihat dari kasus-kasus yang terjadi sebelum 2020. 

Pernyataan dari gugus tugas covid19 memperkuat sinyalemen tersebut (https://news.detik.com/berita/d-5088344/kasus-kekerasan-perempuan-naik-75-selama-pandemi-corona)

Secara umum, dapatlah digambarkan bahwa Tindakan kekerasan dan kejahatan seksual tidak terlepas dari berbagai faktor yang saling mempengaruhi, yaitu : kemiskinan, ketimpangan sosial, budaya, standar moralitas, keadilan hukum, dan tingkat pendidikan.

Satu sama lain saling mempengaruhi sehingga dalam mencari akar permasalahanya, maka akan berhadapan dengan beberapa aspek tersebut secara sekaligus.

Pembenahannya membutuhkan kerjasama yang integrasi antar displin ilmu dan departemen. Pemecahan secara parsial hanyalah meredam gejalanya tetapi tidak menghilangkan akar penyebabnya.

Terlepas dari kompleksitas permasalahnnya, sebagai umat Kristen ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu : dimulai dengan doa yang sungguh-sungguh (dengan hancur hati), mendengar jawab dan panggilan-Nya, berbagi hikmat yang diperoleh kepada rekan seiman dan pribadi yang memiliki beban yang sama, mewujudkan kesatuan hikmat ke dalam bentuk yang applicable & doable, dan menyediakan diri untuk bertindak sejauh panggilan, kapasitas dan kesempatan.

Adakah di antara kita yang memiliki setitik perasaan dan panggilan seperti yang dialami Musa, Daud, Nehemia, Martin Luther King atau Mother Teresa?.

Saat ini dibutuhkan pribadi-pribadi dengan militansi dan idealisme luhur yang bersedia menahan laju kebobrokan moralitas manusia yang makin jauh dari Tuhan. Sambil menantikan penggenapan datangnya Kerajaan Allah yang final pada hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua.

Marilah umat percaya menggenapi apa yang dikatakan dalam firman-Nya :
maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat” (Wahyu 3:18)

Bagi pembaca yang serius dan tersentuh dengan artikel ini, mari satukan langkah iman dan galang kesatuan visi dengan mengirim opini ke email : yesaya.yanto@gmail.com


Penulis :  Ir. Yesaya Yanto Sutrisno, CBA, Mahasiswa Studi Magister Teologi, domisili di Semarang

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…