Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

Jakarta, terangindonesia.id  – Momen tak hapal Pancasila yang terjadi di panggung Grand Final Puteri Indonesia 2020 (Jumat, 6/3/2020) sontak menjadi pembicaraan warganet di media sosial. Ini terjadi ketika salah seorang dewan juri, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta finalis Puteri Indonesia dari Sumatera Barat, Kalista Iskandar, untuk melafalkan Pancasila. Momen ini terjadi di babak enam besar Puteri Indonesia 2020.

Pengajar di Akademi Pancasila dan Bela Negara Dhimas Anugrah @michaeldhimas mengatakan, momen yang dialami Kalista memang tak mudah. Gugup dan demam panggung bisa jadi penyebab gadis ayu asal Tanah Minang itu tak lancar melafalkan kelima sila Pancasila. “Kita harus klir melihat situasi ini, saya lihat Kalista juga dalam posisi yang tak mudah ketika di atas panggung. Maksud saya, dia sangat mungkin gugup sehingga tak tenang waktu menjawab pertanyaan Pak Bamsoet.” “Secara psikologis saya bisa memahami situasi Kalista di atas panggung, dia berusaha tetap tenang walau mungkin ada mental pressure, tapi ini adalah dorongan bagi generasi muda agar mengingat dan memahami kelima sila dalam Pancasila, sebab itu adalah filsafat dasar negara kita,” kata Dhimas. Ia menambahkan, “Saya kira Kalista hafal Pancasila kok, tapi mungkin karena gugup aja jadinya tak bisa lancar lafalkan Pancasila. Saya harap tak ada yang merundung dia.”

Dhimas Anugrah

Pria yang studi doktoral di Oxford, Inggris itu mengatakan, momen Kalista di final Putri Indonesia 2020 merupakan sinyal kuat bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta BPIP, agar segera melakukan usaha konkret dalam pembumian dan penghabituasian Pancasila. Selain melalui pendidikan formal di sekolah, madrasah maupun pesantren, Pemerintah juga perlu mengoptimalkan berbagai platform digital dan media sosial untuk mengajar dan menanamkan filsafat Pancasila, ujar Dhimas. “Saat ini genarasi milenial dan generasi sesudahnya aktif di media sosial baik itu dalam bentuk video, foto, audio, dan lainnya, nah Pemerintah bisa menggunakan media ini untuk mengajarkan Pancasila kepada generasi masa kini,” kata Dhimas.

Berdasarkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia tumbuh dari 55 juta orang pada 2015 menjadi 100 juta orang di 2018. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. “Saya kira pengguna smartphone di Indonesia didominasi generasi milenial, sekitar umur 15–35 tahun. Jadi, ini adalah kesempatan Pemerintah memanfaatkan kemajuan teknologi dan digital itu untuk menanamkan filsafat Pancasila kepada generasi muda kita,” imbuhnya. “Tantangan terbesar bangsa ini selain korupsi, adalah intoleransi. Filsafat Pancasila yang di dalamnya terkandung etika yang luhur adalah jawaban bagi tantangan itu,” pungkas Dhimas. [Chronosdaily]

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…