Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Saya terkejut ketika ada anak rohani saya yang berkata bahwa kakak laki-lakinya tidak lagi tertarik untuk mengikuti ibadah di rumah.

Katanya lebih seru bermain permainan online dengan gadget-nya ketimbang ibadah di rumah yang mayoritas akan menggunakan YouTube. Baginya, rekaman tersebut membosankan dan tidak ada gregetnya. Ibadah online di rumah hanyalah buang-buang waktu.

Ibadah di rumah memang banyak tantangannya.

Bagi orang dewasa saja tantangannya berat.

Tantangannya agar disiplin tidak play pause, tidak lompat ke bagian yang ‘seru’ atau menghentikan ibadah walau belum selesai.

Lalu dengan cara demikian, kita klaim telah ibadah pada hari Minggu.

Saya tidak menuduh dengan cara demikian, mereka beribadah asal-asalan.

Sebaliknya, saya juga tidak memberikan pujian yang tinggi bagi yang mengikuti ibadah dari awal sampai akhir sebagai orang yang benar.

Karena letak benar bukanlah dari cara dia memperlakukan rekaman ibadahnya setiap Minggu.

Sikap ‘haus’ dan ‘lapar’ untuk bertemu dengan Tuhan yang menjadi fokus utama bagi saya yang menentukan apakah mereka betul-betul beribadah kepada Tuhan atau hanya sedang memanjakan mata dan telinganya melalui rekaman ibadahnya.

Jika orang dewasa saja penuh dengan tantangan dan perlu diuji kedisiplinannya, maka bagi anak-anak, mereka memiliki tantangan yang lebih berat dalam mendisiplinkan diri.

Seperti ibarat anak-anak yang biasa disuapinin makan, tetapi sekarang harus mengambil piring, mengambil makanan secukupnya tanpa memilih, lalu makan dengan sendoknya sendiri.

Seperti itulah anak-anak yang beribadah di rumah. Mereka biasa diantar orang tuanya, dibimbing oleh kakak pembimbing, ditemani main, bernyanyi bersama, diajak buka alkitab bersama, dan diberi hadiah ketika pulang.

Ketika ibadah di rumah, ia cenderung bisa memilih gereja mana yang menarik, ia bisa memilih untuk play pause, ia bisa memilih stop, ia bisa berpindah channel lain. Ketika rekaman berlangsung, tidak ada kakak yang mengajaknya bernyanyi, melompat, berdoa, dan meminta dia daiam ketika mendengarkan firman.

Semuanya harus dipenuhi dengan kesadaran diri untuk beribadah. Pertanyaannya, apakah mereka bisa disiplin? Atau lebih tepatnya bisakah orang tua menggantikan peran kakak pembimbing dengan baik?

Ternyata di masa seperti ini, kehadiran pelayan anak menjadi minim kontribusi dan kehadiran orang tua sangat penting dalam peran proses pertumbuhan spiritual anak.

Pada hari Minggu, orang tua menyerahkan anaknya ke Sekolah Minggu/Gereja Anak, dan berharap kakak pembimbing akan mengajar, mendidik, menasihati anaknya dengan baik, sehingga ketika anak dijemput oleh orang tua, mereka berharap seperti mobil yang kotor akan bersih seketika ketika ditinggal 2 jam. Dalam kenyataannya, tentu tidaklah semudah yang dipikirkan.

Gerakan mengenal Tuhan di rumah adalah gerakan yang bertujuan untuk menggiatkan para orang tua untuk sadar bahwa di saat seperti ini justru adalah kesempatan emas untuk membangun hubungan antara Anda dengan anak Anda. Kunci hubungan bukanlah seberapa banyak mainan, benda, dan uang yang Anda berikan, namun menghabiskan waktu yang berkualitas bersama-sama. Bahasa kasih anak-anak hanyalah satu, yaitu T-I-M-E atau W-A-K-T-U. Tidak ada cara lain selain menghabiskan waktu bersama anak Anda.

Inilah waktunya Anda menyadari bahwa pertumbuhan anak Anda berada di tangan Anda sendiri, bukanlah di tangan orang lain.

Anda bisa mulai dengan menemaninya beribadah. Menemani bukan duduk diam sambil bermain gadget dan memarahinya ketika dia tidak fokus. Menemani berarti Anda terlibat di dalam ibadah tersebut. Bernyanyilah bersama anak Anda, berdoa bersama-sama dengan mengikuti kakak pembimbingnya di rekaman tersebut, ikutilah aktivitas/permainan yang disediakan. Berikan mereka pengertian bahwa ibadah fisik dan non fisik sama saja karena Tuhan hadir di hati orang yang mengasihi-Nya.

Semua dimulai dari Anda. Ya, ketika Anda juga disiplin beribadah dengan gaya yang benar, maka mereka akan melihat bagaimana Anda beribadah, dan Anda akan jadi role model yang pantas ditiru. Semua dimulai dari Anda. Ya, ketika Anda selalu menggunakan cara kreatif untuk mengajak anak Anda beribadah ketika mereka jenuh. Dimulai dari Anda yang menjadi teladan, maka anak Anda akan melakukan apa yang benar sesuai apa yang Anda lakukan. Memang pepatah terkenal ini ada benarnya, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

 
Ezra Natan, S.E., CBC.
Wakil Direktur TMC Indonesia | tmcindonesia.org

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…