Sunday, 20 June 2021
Share To:
feature-top

GBI Harus Dipertahankan Sebagai Gereja Yang Bergairah Sekaligus Stabil


GBI (Gereja Bethel Indonesia-red) saat ini sudah menjadi semacam perahu yang sangat besar, baik karena gerakan penanaman gereja (church planting) yang agresif juga karena gereja-gereja yang bergabung.

Harus disyukuri untuk pertumbuhan itu, namun harus pula melihat perkembangan jaman yang semakin menuntut akuntabilitas bergereja. Sebagai gereja aliran pentakostal yang dinamis, tidak dapat dipungkiri selalu ada ketegangan-ketegangan kontekstual, yang membutuhkan discernment (pengujian) terhadap apa yang dimunculkan di tengah-tengah perjalanan kehidupan bergereja.

Menurut saya ada beberapa faktor mengapa masalah-masalah doktrinal mengemuka:

1. Karena pemerintahan gereja yang tidak sentralistik seperti denominasi-denominasi arus utama. Walaupun memang selalu ditegaskan ada hal-hal tidak bersifat otonom, selain pengangkatan pejabat, hingga masalah doktrinal. Namun, tetap berbeda dari gereja-gereja arus utama yang sentralistik dimana pengurus sinode memiliki otoritas penuh untuk melakukan tindakan-tindakan bila ada penyimpangan doktrinal.

2. Faktor banyaknya para pejabat yang tidak mengenyam pendidikan teologi yang baik. Walaupun bukan tidak mungkin, mereka yang memiliki pendidikan tinggi, juga bisa memiliki teologi yang tidak sesuai dengan ajaran universal kekristenan. Namun setidaknya mereka yang belajar teologi secara baik mengerti hermeneutik umum dan doktrin-doktrin dasar kekristenan.

3. Penggabungan gereja lain ke GBI. Faktor ini membuat para pendeta yang bergabung itu sering masih membawa teologi dan tradisi denominasi sebelumnya. Tampaknya perlu ke depan untuk sangat hati-hati dan mewajibkan para pendeta yang bergabung itu untuk mengikuti semacam diklat yang intensif dan lama mengenai GBI dan lulus dari ujian yang dipersyaratkan.

4. GBI adalah sebuah denominasi beraliran pentakostal/karismatik. Di seluruh dunia, tipikal kepemimpinan pentakostal/karismatik mayoritas tidak dipimpin oleh sistem namun oleh pendiri karismatik yang mengklaim mendapatkan visi dari Tuhan untuk memulai dan melangsungkan pelayanan gerejawi. Sebagai pemimpin yang “absolut” di gereja tidak jarang para gembala jemaat itu menyakini bahwa visi yang diklaim didapatkan dari Tuhan itu berdampingan dengan klaim “penemuan baru” akan kebenaran tertentu. Ketika itu berbeda atau malah bertolak belakang dengan teologi dan tradisi denominasi dimana ia bernaung, ia merasa denominasi telah ketinggalan jaman dan tidak paham teologi yang “benar.” Apalagi kalau jemaat besar, pemimpin tersebut memilih melawan dan akhirnya keluar dari denominasinya, entah bergabung ke denominasi lain atau membuat denominasi baru.

Lalu bagaimana seharusnya? Tentu saya pribadi berpendapat kita membutuhkan kebijaksanaan ilahi untuk berhati-hati dalam melihat persoalan doktrinal. Di satu sisi kita membutuhkan stabilitas organisasi di GBI, yang mana merupakan Pekerjaan Allah juga, di sisi lain, janganlah kita terjebak kepada sistem denominasi-denominasi arus utama. Sebagai gereja yang lahir dari pergerakan (movement), dengan semangat Roh Kudus yang dinamis, sejak dulu gereja-gereja aliran pentakostal mempertahankan “daya lentur” nya dalam hal ajaran baik dalam homili, maupun prakteknya.

Panggilan keseimbangan ini sangat penting, yaitu: antara mempertegas tradisi, warisan teologi dan spiritualitas, dengan kepekaan akan kerja Roh dari masa ke masa. Roh yang dinamis. Sekali lagi, kita memerlukan kekristenan yang stabil sekaligus yang dinamis.
Tuhan memberkati!

Oleh: Junifrius Gultom

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…