Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Pandemi Covid-19 menggoncangkan sendi perekonomian dan kesehatan se dunia. Semua kita terdampak langsung maupun tidak. Rasa takut, cemas dan stres adalah normal, sejauh bisa kita kelola dan tidak berlebihan. Ada beberapa sikap batin yang perlu kita olah menghadapi dan menikmati situasi pandemi saat ini.

Masalah pandemi satu hal, tapi respons dan cara pandang terhadap  penderitaan ini satu hal lain. Banyak cara pandang yang membuat masalah semakin berat. Misalnya, menganggap sakit kena virus ini akibat dosa. Atau pandangan lain, menganggap kalau tidak sembuh kurang iman atau kurang berdoa. Kalau ada yang mengajarkan seperti itu bertobatlah. Anda hanya menambah kesengsaraan orang sakit. Ketiga, ada yang mengira wabah ini pekerjaan Setan atau Iblis. Akibat ketiga pandangan yang salah di atas sebagian orang yang mengalaminya merasa ini AIB, dan malu orang lain tahu. Takut kalau penyakitnya diketahui orang lain. Ada stigma batin yang menambah rasa sakit.

Sebagai orang percaya kita melihat penyakit dan kesusahan sebagai bagian pembentukan iman. Teguran kasih Ilahi yang membangun dan membawa perubahan dalam hidup. Tuhan yang Maha baik pasti punya tujuan saat mengijinkan anak-anakNya mengalami hal yang buruk.

Ada beberapa cara pandang atau paradigma terhadap masalah yang perlu kita camkan menghadapi pandemi ini. Agar iman dan batin kita diperkuat menjalani masalah:

PERTAMA, masalah ini tidak untuk disimpan tapi dibagikan

Yang saya maksudkan adalah, kalau ada gejala yang tidak enak dan berkaitan dengan virus corona carilah teman berbagi. Kalau perlu, konsultasikan dengan dokter. Bahkan kalau tidak ada gejala fisik sama sekali tapi Anda merasa cemas, temui dokter.

Saya dan istri baru saja ke Laboratorium memeriksakan darah lengkap. Juga konsul ke Dokter Spesialis Paru-paru di sebuah rumah sakit swasta yang tidak jauh dari rumah kami. Waktu menunggu hasil, deg-degan juga. Bagaimana kalau hasilnya positif. Saya bilang sama diri saya, "Oke aku akan cerita, karena penyakit ini punya kesempatan sembuh sangat besar dan pasti berguna bagi orang lain. Aku akan berbagi." Tetapi  kami bersyukur kemarin hasilnya keluar dan dinyatakan NEGATIF.????

Kita berterima kasih, banyak mereka yang sudah positif terinfeksi dengan besar hati berbagi, bukan hanya pada kerabat dekat tapi juga di sosial media yang bisa dibaca banyak orang. Tujuannya kita bisa belajar dari mereka yang sudah mengalami. Menyimpan masalah memang aman untuk sementara waktu, tapi jauh lebih sehat jika membagikannya meski secara terbatas pada orang dekat.

Moto LK3 ialah:
"Bagikanlah penderitaanmu maka penderitaanmu akan berkurang, bagikanlah kebahagiaanmu maka kebahagiaanmu akan berlipat-ganda."

KEDUA, masalah tidak untuk di atasi tapi dijalani

Sebagian masalah tidak bisa kita atasi karena di luar kendali. Sebagian isu sosial, misalnya bencana, masalah politik, keamanan, dan pandemi khususnya, ada di luar kontrol kita. Yang bisa kita lakukan hanya menjalaninya, belajar bersikap positif di tengah situasi negatif. Caranya adalah mengucap syukur bahwa itu diizinkan terjadi. Bersyukur kita pernah melewati masa tanpa pandemi.

Kita belajar menikmati keadaan yang buruk, bersahabat dengan situasi. Awalnya pasti sulit, misalnya tinggal di rumah selama berminggu-minggu. Sangat membosankan, apalagi bagi kita yang biasa sibuk dan ekstrovert.
Cara terbaik adalah menikmati hobi yang menyenangkan. Hobi adalah pabrik kesenangan pribadi, membuat kita kuat menghadapi situasi buruk. Belajar menciptakan kebiasaan bermain dengan keluarga. Permainan yang membuat Anda saling cerita dan hadir bersama.

KETIGA, Masalah bukan tanda kelemahan tapi kekuatan.

Masalah bukan kutuk tetapi berkat.
Semua kita kagum melihat atlit angkat besi mengangkat beban ratusan kilogram. Mereka bisa memikul beban berat karena terbiasa dari yang ringan dan sedang. Mengapa Tuhan mengizinkan sebagian kita menderita karena sakit atau kehilangan? Itu adalah kepercayaan. Anda dianggap layak atau cakap menanggungnya. Itu justru tanda Anda kuat, dan diizinkan memikul masalah yang berat.
Beban berat kehidupan yang menyadarkan kita bahwa kita tak sanggup memikul sendiri. Ini kesempatan belajar bersandar pada kekuatan Tuhan.

Anda dan saya yang dalam keadaan berbeban berat, mendapat undangan khusus. Sabda-Nya, “Marilah kepada-Ku hai kamu yang berbeban berat aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Ini juga kesempatan untuk mencari teman dan komunitas. Kita tidak sendiri, ada orang lain yang menderita hal yang sama. Berbagi dan saling peduli terjadi saat kita punya kesulitan yang sama. Jadi kita tidak merasa malang sendiri.

Selain itu, masalah pandemi bukanlah kutuk. Ini pelajaran dari alam dan Sang Pencipta supaya kita belajar tidak angkuh dan melupakan Tuhan. Ini menjadi berkat yang tertunda, kita memahami makna hidup yang lebih baik setelah kesulitan berakhir. Atau menjadi “berkat negatif” mengimbangi “berkat-berkat positif” seperti kesehatan atau keberuntungan.

Semua terjadi supaya hidup kita seimbang. Karena kebahagiaan sejati adalah menikmati kesenangan dan kesusahan secara seimbang. Untuk segala sesuatu ada waktunya, dan kita sadar bahwa kita hidup bergantung kepada anugerah Sang Maha Baik.

KEEMPAT,  masalah tidak untuk disesalkan tapi dirayakan

Sebagian kita mudah menyalahkan situasi, mengapa kita sakit atau kehilangan orang yang kita cintai. Apakah itu orang yang menularkan, dokter atau perawat yang lamban atau pemerintah. Menyesalkan dan menyalahkan orang lain tidak membantu, malah menambah jalan buntu. Kita makin stres, kecewa dan marah. Mengambinghitamkan keadaan tidak mengubah apa-apa malah menambah rasa frustrasi.

Sikap bijak dalam hal ini adalah mencoba melihat makna dan mengambil pelajaran. Bertanya, apa maksud Tuhan mengizinkan ini terjadi, sambil berterima kasih kepada Tuhan untuk apa yang masih bisa kita miliki atau nikmati. kita menghitung apa yang sisa, bukan yang hilang. Ini membutuhkan usaha yang tidak mudah karena bertentangan dengan sifat alami kita.

KELIMA, masalah tidak menjauhkan tapi mendekatkan kita dengan Tuhan.

Waktu pandemi belum terjadi, kita sibuk, nyaris jarang kumpul di rumah bersama keluarga. Saat ini kita banyak bersama di rumah. Kita menikmati banyak kesempatan yang dulu terasa mewah sekali.
Hal yang sama, saat keadaan kita baik, kita jarang berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Tapi saat sakit dan kehilangan, kita merasa butuh kekuatan dan penghiburan Ilahi. Kita makin dekat dan mencari wajah Tuhan lewat doa dan perenungan pribadi.

Masalah membuat kita sadar tidak kuat berjalan sendiri. Kita butuh penghiburan Roh-Nya. Secara manusia kita mudah lupa kepada Tuhan Allah saat senang dan bahagia, beda saat susah dan menderita. Seorang raja bijak berkata, “Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah kekuatanku.”

Semoga catatan ini bisa menghibur dan menguatkan kita saat menghadapi situasi yang tidak pasti, kehilangan dan kesedihan yang sempat meluluhlantakkan pertahanan diri kita.  Sambil mengingat seorang beriman pernah menulis, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya sebab Engkau selalu besertaku.”


Salam konseling

Dr. Julianto Simanjuntak, M.Psi.
Penulis Buku SENI MERAYAKAN HIDUP YANG SULIT ~ 28 Maret 2020

LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF (LK3)

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…