Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Benarkah; Bercerai Boleh Tetapi Tidak Boleh Menikah Lagi


Hakekat Pernikahan
Saat Penciptaan telah merancangkan lembaga pernikahan yang merupakan inisiatif Allah sendiri, Lembaga pernikahan dapat juga disebut sebagai mandat ilahi, beberapa ayat menjadi dasar antara lain:


Kejadian 1:27 (TB)  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Kejadian 1: 28 (TB)  Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kejadian 2:24 (TB)  Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.


Sangat jelas bahwa pernikahan adalah antara laki-laki dan perempuan, sangat jelas jenis kelamin yang ditentukan sehingga tidak perlu ditafsirkan.

Ada mandat ilahi dalam pernikahan, bahwa Tuhan berkehendak pernikahan membuahkan keturunan seperti dikatakan dalam Alkitab dikatakan “beranakcuculah”, sehingga dapat dipahami bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral.

Maka dalam pemberkatan nikah ada Perjanjian Nikah yang dinyatakan di Altar Kudus didepan Hamba Tuhan dan membawa Sorga dalam pemberkatannya.

Bahwa tetap setia kepada pasangan dalam suka maupun duka. Demikianlah suami dan istri menjadi satu dan manusia tidak boleh memisahkan atau menceraikan.

Dari awal pernikahan memiliki tujuan yang jelas yaitu beranakcucu dan mengelola bumi, kebahagiaan dan damai sejahtera menjadi milik kita, akan tetapi jika kita keluar dari tujuan tentunya akan keluar dari model yang Allah rancangkan untuk manusia.

Namun demikian, ada juga yang memang tidak dapat kawin karena memang demikian dari rahim ibunya atau juga dengan kemauan sendiri hidup selibat dan memenuhi panggilan keimaman seperti dalam tradisi Katolik.

Matius 19 : 12  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."


Cerai, Kenapa Tidak Boleh?

“Janji Nikah” atau covenant menyatakan setia pada masa suka ataupun duka, kita perlu menerapkan Hukum Kasih yang mengajarkan mengasihi tanpa syarat dan perlu disadari dalam janji nikah tersebut tanpa catatan jika berzina boleh cerai.

Kitab Suci jelas menjabarkan bahwa perceraian bukanlah solusi dari persoalan yang mengikat, perhatikan ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru terkait dengan pernikahan sbb:

1. Matius 19:6 (TB)  Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

2. Roma 7:2-3 (TB)  Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.
Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzina, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzina, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain
.

3. 1 Korintus 7:10-11 (TB)  Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.


4. 1 Korintus 7: 27 (TB)  Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!

Tentu bisa diperdebatkan terkait konteks dan konten dari ayat-ayat Kitab Suci ini, tetapi maukah kita percayakah dan meng-imani bahwa ayat-ayat ini merupakan Firman Tuhan pencipta langit dan bumi ?.

Dalam konteks kepelbagaian Dogma dan Teologi dari Sinode gereja, tentunya pemahaman dan tafsir bisa saja berbeda dan sebagai sesama pengikut  Kristus perlu saling menghormati perbedaan.


Perceraian diijinkan oleh Musa

Ulangan 24 : 1 (TB) "Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, 2  dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, 3  dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati, 4  maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

Matius 19:7-8 (TB)  Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”.

Sebagai manusia ciptaan Tuhan yang sempurna, manusia diciptakan memiliki kehendak bebas, dapat melakukan apapun sesuai logika dan pemahamannya. Kehidupan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama mengikuti Hukum Taurat dan kita saat ini Hidup menurut Hukum Kasih dan tentunya Allah menginginkan Manusia saling mengasihi, saling mengampuni.

Jika Hukum Kasih diterapkan dalam setiap rumah tangga maka tidak akan ada perceraian. Yesus sendiri mengatakan bahwa hati yang keras tidak mengampuni dan tidak mengasihi mengakibatkan perceraian.


Apakah Tuhan Yesus mengizinkan Perceraian ?

Teks Alkitab dipelajari menurut konteks budaya dan kondisi berlangsung saat itu dan ditarik relevansinya dengan situasi dan kondisi saat ini, agar kita mampu memahami dan menerapkan dalam kehidupan saat ini.

Pada Masa kehadiran Tuhan Yesus dalam dunia ini, Orang Parisi sengaja mencobai, bertanya kepada Yesus.:”Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”

Jawaban Yesus dideskripsikan oleh Matius untuk pembaca bangsa Yahudi, sehingga teks yang disusun sedikit berbeda dengan teks yang ada dalam Injil Markus dan Lukas

Matius 19:9 (TB) Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Ayat ini memiliki 2 kata ZINAH, apakah kalimat ini ada yang salah atau terjemahan yang kurang sesuai, melihat perbendaharaan bahasa Indonesia terbatas sehingga digunakan kata zinah. Ayat yang sama terdapat juga dalam Matius 5:32. Dalam bahasa Inggris digunakan kata yang berbeda seperti fornication dan adultery sesuai bahasa asli Alkitab.

Matthew 19:9 (KJV) And I say unto you, Whosoever shall put away his wife, except it be for fornication, and shall marry another, committeth adultery: and whoso marrieth her which is put away doth commit adultery.

Kata zinah/ Fornication dalam bahasa Yunani adalah Porneia (Baca: por-ni’-ah). Makna kata Porneia adalah harlotry (percabulan, kemesuman). Kata harlotry termasuk Adultery (zinah), Fornication (persundalan, perbuatan zina, persetubuhan di luar nikah).

Kata zinah/ Adultery dalam bahasa Yunani adalah moicaw/ moichao (baca: moy-khah’-o) berupa kata kerja ‘present indicative middle’. Kata ini dijumpai dalam Mat 5:32; 19:9; dan Mark 10:11,12. Makna kata moichao adalah ‘to commit adultery’ = ‘melakukan perzinaan, keserongan’.

Konteks jawaban Yesus ditujukan menjawab orang Parisi sesuai pada masa itu dan berlaku relevan hingga saat ini, bahwa orang yang bertunangan sesuai kebudayaan Yahudi disebabkan melakukan hubungan sex diluar nikah atau bercabul (porneia) dapat diceraikan karena belum ada covenant atau ikatan dalam penikahan.

Dalam jaman sekarang, bisa terjadi pernikahan atau perkawinan tidak lagi menjadi peristiwa sakral dan kudus, tetapi sekedar menjadi status sosial dan atau pemuas nafsu. Maka kita menangkap apa arti jawaban Tuhan Yesus Kristus terhadap pernikahan, kalau bertunangan bisa cerai, tetapi tidak ada alasan cerai bagi yang menikah dengan janji nikah/ covenant di Altar yang kudus dengan menyebut nama Allah karena jika pasangan yang jatuh dalam dosa zinah/ moichao mengambil langkah tobat maka harus terbuka ruang maaf dan pengampunan.

Perceraian masa kini terjadi tidak saja persoalan Wanita Idaman Lain atau Pria Idaman Lain atau perselingkuhan, tetapi segudang persoalan lain seperti status karir dan penghasilan yang memicu intimidasi dan perselisihan, campur tangan orang tua. Perilaku yang menyimpang merupakan penyebab ketidak harmonisan yang berujung perceraian.

Dalam era teknologi muktahir, alasan pilihan politik dan kebutuhan kekuasaan atau kekayaan mampu juga memicu perceraian. Maka pasangan Suami istri harus berani menjaga tujuan pernikahan yang dirancang sejak awal, merawat pernikahan adalah suatu pilihan dan proses yang selalu diperjuangan antara laki-laki dan perempuan yang menjadi satu daging.

Maka kehidupan kerohanian seperti mengikuti ibadah secara online, maupun berbagai bentuk persekutuan doa, saat teduh, berdoa merupakan lokomotif yang menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Yesus tidak pernah setuju dengan perceraian.

Jika rumah tangga mengalami perselisihan dan ketegangan komunikasi yang terjadi terus menerus, datanglah kepada Konselor Kristen dan minta bimbingan, mari kita dengan berani ber-proses melakukan kehendakNya.



Antonius Natan
Dosen STT LETS - Lighthouse Equippping Theological School

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Leo Detri

Sependapat dengan uraian Pdt Antonius Natan. Hanya Kristen Sejati Yang dapat menikmati arti sebuah pernikahan yang Kudus. Tq Ps. Ulas juga tentang akhir dan dengan tuntas, sehingga terjadi multi tafsir tentang akhir zaman, serta hal2 yang prinsipil dalam kebenaran Iman Kristiani, amin

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…