Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Jakarta, terangindonesia.id - Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari atas beberapa suku, bahasa, budaya, agama, dan adat istiadat. Kemajemukaan itu merupakan kekayaan sekaligus menjadi persoalan bagi bangsa Indonesia.

Masalah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa itu terjadi, karena  bangsa Indonesia belum semuanya memahami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah yang sering terjadi dalam pengamalan Pancasila adalah masalah agama, karena agama adalah masalah yang sangat sensitif. Hal ini sering terjadi di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia

Relasi antar agama dirumuskan dalam narasi ‘kerukunan agama’ dan dapat dipahami istilah tersebut dipengaruhi oleh konsep ‘kebebasan beragama’. Indonesia mencanangkan Pola Kerukunan untuk mencegah agar orang tidak terjebak dalam konflik-konflik keagamaan, maka perlu pola Kerukunan Antar-Umat Beragama, Kerukunan Intern-Umat Beragama dan Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah.

Suatu rumusan praktis diupayakan sebagai jembatan dapat menghubung umat secara Lintas agama. Meskipun pola ini bukanlah suatu pemahaman secara teologi, tetapi pemahaman ini dimaksudkan agar tidak terjadi konflik agama satu dengan lain, ataupun agar di dalam komunitas dan kelompok umat beragama tidak ada upaya saling menjegal. Namun demikian, istilah kebebasan beragama sering dipahami sebagai bagian utama dari kerukunan umat beragama.

Kebebasan beragama menekankan hak setiap penduduk secara pribadi untuk bisa menjalankan dan mengamalkan ajaran dan keyakinan agama yang dianut. Kedua istilah kerukunan agama dan kebebasan beragama ini mempengaruhi relasi antar agama di Indonesia yang sedang menuju toleransi beragama (Toward Tolerance)

Karena itu untuk menuju toleransi beragama pendekatan kultural perlu dilakukan dalam rangka memberikan pengertian dan pemahaman kepada tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemuda yang ada di berbagai kota dan desa, supaya dengan penuh kesadaran dan hati tulus dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang berbeda agama sehingga  dapat terciptanya persaudaraan yang rukun.



Arti sila Ketuhanan Yang Maha Esa bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yakni negara yang religius, bukan Negara atas dasar agama tertentu dan bukan negara atheis.

Hakikat sila Ketuhanan Yang Maha Esa  dapat dilihat  dalam UUD 1945 pasal 29
(1) yang menyatakan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 29
(2) negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan yang dianut.

Dan dalam  alinia ketiga Pembukaan UUD 1945 berbunyi “Atas berkat rachmat Allah yang Maha Kuasa  dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yg bebas. Maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Kini saatnya kita melakukan toleransi yang artinya juga membawa kedamaian kedalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Antonius Natan
Sekretaris PGLII DKI Jakarta | Waket I STT LETS - Ligthhouse Equipping Theological School

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…