Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Sebelumnya sudah dijelaskan 2 mitos yang biasa terjadi di dalam Sekolah Minggu. 3 mitos selanjutnya tidak kalah berbahaya yang harus Anda buang dalam kepercayaan Anda sebagai pelayan anak.


3. Anak di Sekolah Minggu tidak dihitung sebagai jemaat gereja

Ketika ditanya, “Berapa jumlah jemaat di gereja Anda?” Banyak gembala dan pendeta hanya fokus jumlah jemaat yang menghadiri di dalam ibadah umum tanpa memasukkan anak ke dalam perhitungan mereka sebagai jemaat.

Anak-anak tidak dianggap penting dan masih terlalu dini untuk diajar firman Tuhan. Anak-anak ada di dalam Sekolah Minggu dihitung tersendiri dan tidak dianggap sebagai jemaat yang harus dimuridkan.

Fakta: Anak di Sekolah Minggu adalah ladang pelayanan yang besar dan potensial.

Yesus sendiri marah ketika murid-murid-Nya menghalangi anak-anak yang ingin datang kepada-Nya. Yesus berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Lalu Yesus melanjutkan, “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:14-15). Jadi bagaimana mungkin kita tidak menganggap anak-anak sebagai ladang pelayanan?

Gereja yang sehat dan berhasil adalah gereja yang memikirkan rencana jangka panjang, yang di dalamnya memikirkan anak-anak.


Bayangkan anak-anak yang saat ini masih kecil suatu saat nanti akan menggantikan para pemimpin di dalam gereja.

Jika anak-anak tidak disiapkan dari sekarang, mereka akan mudah pergi ke pergaulan yang salah, kepercayaan yang salah, budaya yang rusak, dan membuat gereja tidak memiliki masa depan.

Gereja yang sehat adalah gereja yang memikirkan pelayanan anak setiap harinya sebagai prioritas tertinggi.


4. Anak-anak terlalu kecil untuk dimuridkan

Atas dasar pemikiran inilah membuat para pelayan anak dan pendeta memberikan pelayanan yang cenderung asal-asalan.

Persiapan yang minim, peralatan dan perlengkapan seadanya, ruangan yang tidak memadai, guru yang tidak berkualitas dibiarkan mengajar, pemain musik yang tidak pernah latihan diizinkan untuk mengiringi musik, Worship Leader yang fals diizinkan naik panggung.

Bukan berarti tidak mengizinkan proses, namun standar yang rendah pasti menghasilkan kualitas rendah.

Mereka berkompromi karena anak-anak masih kecil dan tidak bisa protes jika terjadi kesalahan.

Anak-anak belum mengerti jika diajarkan firman Tuhan, jadi mungkin mereka berpikir untuk menunda beberapa tahun agar anak siap dan matang untuk dimuridkan.

Fakta: Usia anak adalah usia paling krusial dalam pemuridan

Nyatanya anak-anak adalah generasi emas untuk dimuridkan. Menurut buku Reggie Joiner yang berjudul It’s Just Phase – So Don’t Miss It, usia anak-anak adalah usia yang paling krusial dalam pemuridan, bahkan sejak mereka masih bayi.

Pemuridan harus dilakukan secara serius sejak mereka bayi.

Sejak bayi, orang tua dan gereja dapat mengajarkan Kasih Allah, yang kemudian mengenalkan siapa itu Allah. Usia 8-9 adalah usia terbaik anak-anak menerima Yesus.

Setelah berumur 12 tahun, mereka akan mulai mencari jati diri dan inilah yang membuat mereka memilih antara jalan yang salah atau benar.

Setiap benih yang ditanam dengan benar tidak akan pernah sia-sia. Anak-anak harus dimuridkan secara serius sejak mereka kecil.

Markus 16:15 berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Dalam versi KJV segala makhluk ditulis every creature, yang berarti semua ciptaan yang tentunya termasuk dengan anak-anak.

Yesus tidak mengatakan beritakan Injil kepada orang dewasa yang berusia di atas 17 tahun. Yesus berkata dengan jelas bahwa kita harus memberitakan Injil kepada semua orang dan tentunya termasuk anak-anak.


5. Anak-anak adalah pemimpin masa depan

Tidak sedikit banyak orang yang memiliki pemikiran ini.

Mereka adalah presiden masa depan, pejabat masa depan, pengusaha masa depan, dokter masa depan, guru masa depan, arsitek masa depan, pendeta masa depan.

Apakah itu pemikiran yang salah? Tidak salah, namun kurang tepat dan Anda dibiarkan terkunci dengan pemikiran ini bertahun-tahun.

Fakta: Anak-anak juga pemimpin masa kini

Anak-anak adalah pemimpin masa kini. Titik, tanpa kompromi. Mereka adalah ketua kelas saat ini, ketua kelompok tugas, ketua geng di antara teman-temannya, pemimpin adiknya, dan yang pasti mereka adalah pemimpin dirinya sendiri.

Dengan pemikiran yang salah sebelumnya, kita menganggap mereka akan berhasil suatu saat nanti, padahal mereka dapat berhasil di masa kini. Mereka dapat diberi tanggung jawab yang sesuai, mereka dapat melakukan pekerjaan, mereka tentu dapat melayani Tuhan.

Di dalam gereja yang sehat, anak-anak dilatih untuk menjadi pemimpin masa kini dengan melayani Tuhan di bagian praise and worship, usher, menjaga anak-anak yang lebih kecil, asisten kelas, dan lainnya. Mereka semua adalah pilar-pilar gereja di masa kini dan tentunya masa depan.

Beli masa depan dengan harga masa kini.

Maksudnya tidak pernah sia-sia ketika Anda memuridkan anak-anak pada masa kini, karena gereja Anda pasti memiliki masa depan yang lebih baik. Gereja yang punya masa depan cerah adalah gereja yang memikirkan pelayanan anak sebagai prioritas tertinggi.

Penulis
Ezra Natan, S.E., CBC.
Wakil Direktur TMC Indonesia | www.tmcindonesia.org

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…