Friday, 18 June 2021
Share To:
feature-top

Banyak pelayan anak di Sekolah Minggu yang tetap mempertahankan pola pikir lama dan tidak beranjak kepada pemikiran yang baru. Pelayanan anak sesungguhnya kompleks dan selalu berkembang, maka dari itu diperlukan untuk beradaptasi seiring dengan perubahan zaman. Jika pola pikir lama masih digunakan, maka mereka tidak akan pernah membuat revolusi dalam pelayanan anak yang berimplikasi pada masa depan gereja itu sendiri. Pemikiran-pemikiran lama ini dapat dikatakan mitos. Mitos-mitos ini adalah pemikiran yang salah pada umumnya dan mereka memegang pemikiran tersebut bertahun-tahun lamanya sebagai dasar pemikirannya. Berikut 5 mitos Sekolah Minggu yang harus dibuang dalam kepercayaan Anda sebagai pelayan anak.

1. Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak
Pemahaman ini didapatkan berdasarkan agar para orang tua dapat beribadah dengan tenang dan fokus tanpa diganggu oleh anaknya. Sekolah Minggu sebagai tempat alternatif bagi orang tuanya untuk menitipkan anaknya. Yang salah adalah motivasi orang tua yang membuat Sekolah Minggu menjadi salah satu alternatif saja dan/atau motivasi dari para pemimpin gereja yang mendirikan Sekolah Minggu tidak lebih dari membuat orang tua fokus beribadah. Ciri-ciri Sekolah Minggu seperti ini adalah tidak ada ruangan yang memadai untuk sekolah minggu. Ada sebuah gereja yang megah, namun sekolah minggunya di dapur dan digelar karpet kotor. Sebaliknya ada juga Sekolah Minggu yang sangat mewah fasilitasnya. Layaknya taman bermain, Sekolah Minggu menjadi tempat yang sangat asyik bagi anak-anak dengna makanan berlimpah. Tidak ada yang salah dengan fasilitas mewah, yang salah jika tidak diiringi dengan pemuridan anak. Sekolah Minggu hanya untuk membuat anak diam dan senang, kemudian orang tua juga senang karena ada yang menjaga anaknya. Ini pemahaman pertama yang salah.

Fakta: Sekolah Minggu adalah tempat pemuridan anak
Anak-anak yang tergabung di Sekolah Minggu harus dimuridkan walau hanya dalam 1-2 jam. Dasar berdirinya Sekolah Minggu adalah untuk memuridkan anak-anak yang dipercayakan oleh orang tua. Salah satu dasar memuridkan anak tertulis di dalam alkitab, “Ajarlah seorang anak untuk memilih jalan yang benar, maka setelah dewasa ia akan tetap berada di jalan itu.” (Amsal 22:6 versi FAYH). Pemuridan anak harus dijalankan, bisa melalui pemuridan 1 on 1, pemuridan melalui kelompok kecil, pemuridan dalam kelompok besar. Pemuridan pada intinya bertujuan menjadikan anak serupa Kristus dengan tanda perubahan perilaku, perubahan karakter, perubahan sikap, perubahan pola pikir (Roma 12:2). Mereka yang mengenal Tuhan juga pasti akan semangat mendengarkan Firman Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan dengan berkobar-kobar, dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

2. Sekolah Minggu adalah pelayanan kelas 2 atau 3 di gereja
Sedikit banyak pemahaman ini ada implikasi dari pemahaman yang pertama, dimana Sekolah Minggu bukanlah pelayanan kelas utama, melainkan hanya sebagai pelayanan alternatif yang boleh ada dan bisa ditiadakan. Pemahaman ini akan berimplikasi pada pemilihan pelayan anak itu sendiri. Sekolah Minggu yang tidak penting, maka pemilihan pelayan anak juga tidak penting, dan dengan demikian kualitas pelayan anak tidak akan ada ukuran standar yang benar. Dengan sendirinya memunculkan stigma bahwa pelayanan anak adalah kelas 2 bahkan kelas 3. Mereka lebih suka melayani di pelayanan kelas pertama misalnya pelayanan mimbar (pendeta, worship leader, singer, pemusik, dan lainnya). Paling berbahaya apabila mereka melayani di Sekolah Minggu karena tidak diterima jadi pemain musik di ibadah umum, tidak diterima jadi worship leader di ibadah umum, dan pelayanan lainnya yang dianggap bergengsi. Mereka diterima di Sekolah Minggu karena pemimpin pelayan anak membutuhkan orang-orang dan kemudian menerima siapa saja. Ini memang implikasi lain dari stigma yang salah, yaitu mengakibatkan pelayanan anak selalu kekurangan pelayan.

Fakta: Sekolah Minggu adalah pelayanan kelas VIP
Lebih daripada pelayanan di mimbar. Pelayanan anak harusnya memiliki persiapan yang sangat matang dengan ide inovatif. Pelayanan anak harusnya memiliki standar sangat tinggi untuk merekrut pelayannya. Mengubah Sekolah Minggu dari pelayanan kelas 2 atau 3 dengan menetapkan standar tinggi pelayan-pelayannya. Menyortir pelayan anak yang telah bergabung, melatih mereka untuk standarisasi. Merekrut pelayan baru dengan standar tinggi. Konsep ibadah anak harus dengan kualitas tinggi minimal setara dengan ibadah umum. Tidak hanya membicarakan fasilitas, melainkan juga sumber daya manusia yang dapat memberikan pelayanan terbaik. Penetapan standar tinggi ini penting untuk menjaga anak diajar dalam kebenaran firman Tuhan yang benar tanpa penyimpangan dari pengajar-pengajar yang tidak berkualitas ataupun memperlakukan anak dengan senonoh yang dapat menyebabkan anak trauma dan bisa saja menghancurkan kehidupan anak tersebut. Yesus sendiri menempatkan anak sebagai prioritas penting, di dalam Matius 18:14 Yesus berkata “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

Kedua mitos ini harus dihindari dalam menjalankan Sekolah Minggu dan memasukkan 2 fakta baru ke dalam pemikiran alam bawah sadar. Ingat, anak-anak justru adalah usia paling emas untuk diinjili. Betapa luar biasa sejak dini mereka telah cinta mati-matian kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, sang Bapa yang baik. Lalu bagaimana dengan 3 mitos lainnya? Ikuti artikel selanjutnya ya.


Penulis
Ezra Natan, S.E., CBC.
Wakil Direktur TMC Indonesia
www.tmcindonesia.org

Iklan Patriot Garuda Nusantara
Doa Kesatuan by Lumbung Yusuf

Comment

Add a Comment

Tidak Ada Tempat di Tanah Air Indonesia Bagi Terrorisme
Generic placeholder image

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain…